Kisah Ibu dan Anaknya

Kisah Ibu dan Anaknya

  • WpView
    Reads 120
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Mon, Dec 9, 2024
WpInfo
Non-Fiction
Bu Siti adalah seorang ibu sederhana dan tangguh. Tubuhnya kecil dengan wajah yang menunjukkan garis-garis kehidupan, tetapi matanya memancarkan kehangatan. Ia sering memakai kebaya sederhana atau daster dengan corak bunga. Meski tangannya kasar karena kerja keras, senyumnya tak pernah hilang. Ia adalah sosok yang penuh cinta dan dedikasi, rela mengorbankan segalanya demi anaknya, Fajar. Dalam setiap langkahnya, ia menunjukkan kekuatan seorang ibu yang tak kenal lelah untuk membahagiakan dan mendidik anaknya menjadi sukses. Happy Reading guyss. Kasih kritik atau sarannya yaa. Terimakasih.
All Rights Reserved
#703
haji
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • Little Princess [END]
  • I LOVE MIMA (Lurah Family)
  • A Life That Turns
  • sincerity Of a Little girl
  • Masa laluku Masa depanku
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • kasih sayang ibu  yang tidak dapat tergantikan

"siapapun tante, adik ayah, adik bunda, tetangga atau simpanan ayah, aku anggap tante cuma benalu tau" ucapku memberi penekanan pada kata simpanan. Wajah Tante Dista terlihat terkejut. "heiii.."ia membentakku "ga pernah di didik ya sama bunda mu, ternyata bundamu itu ga becus jadi seorang ibu ya pantas saja ayahmu tergila gila pada ku" "kamu ga usah senang dulu, suatu saat nanti aku yang akan mengusirmu dengan tanganku sendiri" sambungnya Aku menyeringai "barusan kau buat pengakuan kan" tanyaku menatapnya jijik. Tante Dista terlihat kikuk. "hahaa..... Jadi kau memang simpanan ayah. Dan masih sanggup tinggal dirumah kami. Ga tahu malu"ucapku dengan penekanan di kata simpanan dan malu. "kauuu-"ucapnya tertahan ketika bunda mulai mendekati kami. Aku mendekat ke arah tante Dista tetap mempertahankan senyum palsuku. Menginjak kakinya dengan keras, dan pura pura mencium pipinya dengan mesra. Dia menjerit tertahan dan aku senang. Tanganku yang bebas menarik rambutnya yang terjuntai panjang. Dia meringis dan mencengkram tanganku kuat kuat. Bunda tak pernah tau itu. Bunda hanya tersenyum dan menganggap semuanya akan baik baik saja. Padahal aku dan tante Dista sedang menyiapkan strategi perang kami masing masing.

More details
WpActionLinkContent Guidelines