Real love

Real love

  • WpView
    Reads 166
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 19, 2025
"Hai, aku Sesya Fi Jeannalika. Katanya tulisan adalah seni, ya? sama hal nya seperti lukisan. Seni menyampaikan tanpa harus bersuara. Jadi, aku menyampaikan tulisan ini ke othor agar aku bisa menyuarakan apa yang selama ini terpendam. Dan pada tulisan ini aku akan mengajak teman-teman untuk melihat cerita dari sebagian besar sudut pandang-ku (Sesya) sebagai tokoh utama dalam cerita ini yang berjalan dengan penuh rasa kebingungan". "3 tahun hilang kabar. tiba-tiba kembali dengan membawa banyak teka-teki. Aku menyukai nya. Tapi sepertinya, Tali yang ku-bawa tidak cukup kuat untuk menggenggam-nya. Apa yang salah?. Sungguh, dia membuat ini semakin rumit dengan; dekat tidak menggenggam. jauh tetapi selalu ingin pulang. ya, begitulah dia. Bayu, Bayu Adhima sahabat kecilku". Kehadiran bayu sekarang menjadi tanda tanya besar dibenak sesya. Apakah bayu akan tinggal? Atau justru mereka melakukannya lebih dari yang seharusnya(?) Ikuti kisah perjalanan sesya dan bayu jika ingin tahu bagaimana semesta mengantar mereka pada Final chapter. karena bisa jadi cerita ini adalah kisah yang relate dengan kisah temen-temen.
All Rights Reserved
#11
cintadalamikhlas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • ANANDITASWARA [TERBIT]
  • LOVE in SILENCE
  • [✔] AKSARASSA
  • INTUISI || ft. Tokuno Yushi
  • Kelas A [End]
  • [END] WHAT WE HAVE PASSED TOGETHER?
  • Kembar Berbeda || Haechan [TERBIT]
  • BarraKilla

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines