"Cal, lo sadar nggak sih kalau semua rasa suka lo ke dia sebenernya lebih dari yang selama ini lo pikir?"
"Ngaco lo."
Edward memutar kedua bola matanya sebagai bentuk kekesalannya terhadap Callian. Kedua tangannya perlahan meraih kedua pundak Callian, jari-jarinya memegang pundak itu erat-erat sebelum menggoyangkan laki-laki di hadapannya itu. "Sadar, tolol."
Luce mengangguk setuju, "Mau gimanapun, tetep aja pandangan lo sama pandangan orang-orang terhadap sikap lo sama dia itu beda. Lo punya obsesi sama dia, Cal. Lo juga tolol, soalnya denial."
Callian terdiam, otaknya berhenti sejenak saat mendengar kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh Luce-yang secara keseluruhan memang menggambarkan keadaannya-tidak sepenuhnya salah. Ia memang seringkali merasa rasa 'suka' yang ia alami berlebihan. Namun ia sendiri tidak tau cara menguranginya. Malah memperbesar rasa itu.
Callian Calloway-seorang vokalis utama serta Frontman-dari sebuah band ternama, DAWN, sedang berusaha meluluhkan hati pujaan hatinya. Mencoba terus-menerus selama berbulan-bulan tidak membuahkan hasil, bahkan lebih buruk dari perkiraan. Masalahnya, ia sudah ditolak berkali-kali. Namun ia tetap teguh dan pantang menyerah. Semangatnya patut dicontoh, tapi orang-orang mengartikan sikap teguhnya itu sebagai 'obsesi' yang tiada habisnya. Di sisi lain, ia juga harus berkomitmen kepada DAWN, bukan hanya kepada sang pujaan hati yang adalah salah satu dari lima anggota band. Baginya, kisah yang dialaminya sangat rumit. Namun, siapa yang bisa menolak kharisma seorang perempuan yang memiliki reputasi di hadapan publik? Ia sendiri pun tidak bisa.
Todos los derechos reservados