Rumah Anaya

Rumah Anaya

  • WpView
    LECTURAS 254
  • WpVote
    Votos 91
  • WpPart
    Partes 8
WpMetadataReadContenido adultoContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, ene 24, 2025
WpInfo
Ficción
Romance
Gadis itu berjalan gontai ditrotoar dengan baju yang basah kuyup sembari menggenggam ponselnya yang sudah hampir mati akibat kemasukan air. "Gw harus kemana" Batinnya, ia terus berjalan tak tentu arah meskipun hari sudah mulai gelap "Apa gw mati aja ya" gumamnya "Lagi pula gw gak dibutuhkan disini" ia berhenti sejenak sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju jembatan. Naya menatap kearah bawah jembatan yang terlihat begitu gelap, rasa ragu mulai menghantuinya namun kali ini keputusannya sudah bulat. "Gak ada lagi yang bisa gw lakuin" ucapnya, ia mengangkat sebelah kakinya kepagar pembatas jembatan itu dan bersiap untuk melompat namun sebelum rencana itu berhasil terlaksana sebuah tangan menariknya kuat hingga ia terjatuh dalam pelukkannya, mereka saling melemparkan tatapan canggung. @mia_aliee
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • ALYA
  • Because ILY [Completed]
  • AKALA ; My heart beats for Miss
  • Terjadi Sesuatu Padaku
  • Pak Dokter & Buk Tani
  • Peluk
  • Luka Bercerita
  • Lalu, aku ini siapa? [COMPLETE]
ALYA

Alya melangkah menuju sekolah dengan langkah pelan. Jalanan pagi itu sepi, hanya suara burung berkicau yang menemani. Biasanya, ia akan berangkat lebih awal untuk membaca buku di perpustakaan, tapi hari ini hatinya terasa berat. Sesampainya di sekolah, suasana berbeda jauh dari rumahnya. Di sini, Alya bukanlah anak yang diabaikan. Ia dikenal sebagai murid berprestasi, ketua klub sains, dan siswa yang sering membawa nama sekolah ke ajang perlombaan. Teman-teman dan guru-guru menghormatinya. Saat ia memasuki kelas, seorang temannya, Dinda, langsung menghampirinya. "Alya! Kamu udah siap buat ujian hari ini? Kayaknya ini bakal susah banget!" kata Dinda panik. Alya tersenyum kecil. "Aku sudah belajar semalam. Semoga saja bisa mengerjakan dengan baik." Dinda menghela napas. "Duh, enak banget jadi kamu. Pinter, rajin, selalu menang lomba. Orang tuamu pasti bangga banget, ya!" Ucapan itu membuat senyum Alya menegang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa tidak peduli berapa banyak piala yang ia menangkan, orang tuanya tidak pernah benar-benar peduli? Alya hanya tertawa kecil. "Iya, semoga saja." Gmn kelanjutan nya? Langsung baca aj yaa See you, semoga suka sama ceritanya >_- Dilarang keras plagiat karya gw⚠️

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido