Antara Hasrat dan Hati

Antara Hasrat dan Hati

  • WpView
    Reads 197
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 15, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Di sebuah kafe kecil di sudut kota Jakarta, Hana sedang menyesap kopi hitam sambil menatap layar laptopnya. Hujan turun dengan deras di luar, menciptakan irama yang menenangkan di atap seng kafe. Hari itu, ia mencoba menyelesaikan naskah novel terbarunya, namun pikirannya terus teralihkan oleh suara pintu kaca yang terbuka dan tertutup setiap kali seseorang masuk. Saat itu, seorang pria masuk dengan setelan jas abu-abu yang basah oleh hujan. Rambutnya yang hitam pekat tampak berantakan, namun justru menambah pesonanya. Ia melihat sekeliling kafe, kemudian berjalan menuju meja kosong di sebelah Hana. Pria itu mengeluarkan laptop dari tas kulitnya dan mulai bekerja tanpa banyak bicara. Hana, yang biasanya cuek terhadap orang-orang di sekitarnya, entah mengapa merasa tertarik untuk mencuri pandang.
All Rights Reserved
#515
noveldewasa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • When Jasper Met Kalaluna
  • Naya
  • My Barista Boy(Friend)
  • Cafe Jasuke Just Okay (Complete Story)

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines