Memory Of Tears

Memory Of Tears

  • WpView
    Reads 621
  • WpVote
    Votes 296
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 27, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Second Chance
Happy Ending
Romantic Comedy
𝓜𝓮𝓶𝓸𝓻𝔂 𝓞𝓯 𝓣𝓮𝓪𝓻 "𝐊𝐞𝐬𝐮𝐧𝐲𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐦𝐞𝐠𝐚𝐡 𝐭𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐝𝐮𝐤𝐚 𝐭𝐚𝐦𝐩𝐢𝐥 𝐩𝐚𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐧𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐰𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐧𝐝𝐢𝐰𝐚𝐫𝐚 𝐮𝐬𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐩𝐞𝐧𝐣𝐚𝐫𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐝𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐠𝐞𝐥𝐚𝐩𝐚𝐧"
All Rights Reserved
#183
model
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • I Love You
  • Karena Kamu Rumahnya
  • MY HOPE IS YOU (END)
  •  ANATHA
  • If we can together

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines