⚠️⚠️⚠️21+
Arbie Joesoef Assingkili, Menteri Pertahanan. Wajah dinginnya, sikap tenang yang penuh kharisma, dan tutur katanya yang terukur membuatnya tampak seperti seorang pemimpin ideal. Ia dipuja publik, ditakuti lawan politik, dan disegani oleh dunia.
Namun, semua itu hanyalah topeng sempurna.
Di balik citra terhormatnya, he's cruel, sadistic, possessive, obsessive, manipulative.
Tjoet Nyak Meurhouksha Djohar, sang supermodel adalah korbannya yang paling parah. Dunia melihatnya sebagai wanita sempurna di samping pria yang paling berpengaruh di negeri ini. Wajah cantiknya menghiasi majalah-majalah, senyumnya selalu memikat di setiap konferensi pers dan acara resmi. Namun, senyum itu adalah ilusi yang ia pelajari untuk bertahan hidup.
Tenang di luar? hah Bullshit!
Arbie adalah sosiopat yang tahu cara bermain peran dengan sempurna. Meurhouksha menjadi pelampiasan- dikendalikan, dipaksa tunduk, dan diikat oleh ketakutan yang tak terucapkan. Setiap gerakannya dipantau, setiap langkahnya direncanakan. Tidak ada tempat untuk melarikan diri.
Bagi dunia, ia adalah wanita sang menteri, bintang yang bercahaya. Namun dalam kenyataannya, ia adalah tahanan yang hidup dalam bayang-bayang seorang pria gila - pria yang selalu tersenyum tipis dengan tatapan mematikan, siap mengklaim apa yang dianggap sebagai miliknya.
⚠️⚠️⚠️
NOTE:
"Segala nama tokoh, tempat, dan kejadian dalam novel ini hanyalah fiksi belaka. Jika terdapat kesamaan nama, latar, atau peristiwa dengan kehidupan nyata, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan individu atau situasi sebenarnya."
It's Politically Tamed, But She's Not
Dalam dunia politik,
yang paling berbahaya bukanlah musuh.
Tapi orang yang tahu cara menyentuhmu... lalu membunuhmu dengan senyuman.
Sassy adalah social media strategist kesayangan para politisi bermasalah-
wanita yang bisa menyulap skandal menjadi simpati publik.
Elvano adalah golden boy politik: tampan, tenang, cerdas, dan terlalu bersinar untuk tidak dibenci.
Tiga tahun lalu, mereka bertemu di sebuah kafe kecil.
Mereka saling menginginkan.
Lalu saling menghancurkan.
Sekarang mereka kembali duduk semeja-
berpura-pura jadi pasangan untuk mengalihkan perhatian publik dari skandal nasional.
Tapi tubuh mereka masih ingat cara menyatu.
Dan luka mereka terlalu dalam untuk sembuh sepenuhnya.
Ciuman mereka bisa menjatuhkan reputasi.
Sentuhan mereka bisa memicu perang.
Tapi mereka tetap kembali-saling menginginkan,
saling menyiksa,
dan saling diam-diam menyelamatkan.
Ini bukan kisah cinta.
Ini kisah dua karakter yang terlalu kuat untuk tunduk,
dan terlalu rusak untuk sembuh bersama.
Jika kamu suka permainan kuasa,
tarik-ulur emosi,
dan ranjang yang terasa seperti medan politik...
Kamu akan jatuh cinta pada mereka.
Dan ikut terbakar.