427 hari, 14 bulan, lebih dari satu tahun penuh perjuangan, Biru Putera Araka tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan cintanya. Perjalanan yang ia tempuh bukanlah jalan yang mudah. Ada banyak rintangan, luka, dan air mata, namun Biru selalu percaya bahwa cintanya layak untuk diperjuangkan.
"Kenapa sih harus sesulit ini?" gumamnya sambil memainkan gelang pemberian Syifa.
Iqbal, sahabatnya, duduk di sampingnya sambil menyeruput es kopi. "Kalau gampang, mungkin nggak akan seberarti ini, Biru. lu tahu kan, sesuatu yang berharga itu nggak pernah mudah didapat?"
Biru tersenyum kecil, meskipun hatinya masih penuh keraguan. "Tapi, kadang gua mikir, apakah gua cukup buat dia? Apakah gua benar-benar orang yang dia butuhkan?"
"apa gua belok sekarang?"
Biru terjebak dalam insiden nyaris mematikan sebulan sebelum tahun ajaran baru. Insiden yang membuatnya koma selama dua minggu penuh dengan pemulihan yang memakan waktu dan membuat jenuh. Ketika akhirnya ia siap untuk bergabung di sekolah baru yang ibunya pilih, secara mental persiapannya nol besar. Biru diam layaknya pengamat tanpa pernah mengeluarkan usaha untuk terkoneksi dengan teman-temannya. Butuh waktu untuk Biru membuka diri. Dan ketika Biru akhirnya mempersiapkan untuk melepas awan mendung di kepalanya, hati dan pikirannya dipaksa untuk menerima lebih dari sekedar sosialisasi khas anak SMA.
+ 𝐁𝐞𝐰𝐚𝐫𝐞 𝐨𝐟 ㅡ alur mainstream yang mungkin akan beberapakali maju-mundur, typo(s), bahasa campuran yang semi-baku, brøken english, kinda slow burn, and some scenes maybe can be triggering, etc.
[✓] : Cover sources by Pinterest and edited by Canva.