The Mansion(Rumah Warisan)

The Mansion(Rumah Warisan)

  • WpView
    Reads 85,062
  • WpVote
    Votes 6,612
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 31, 2015
WpInfo
Non-Fiction
Ferrin Attar Thahar baru delapan bulan menjabat sebagai Walikota saat masalah besar yang datang dan membuatnya tak lagi merasakan kenyamanan duduk di kursi Walikota justru berasal dari rumah warisan milik Kakek buyutnya. Rumah itu bukan rumah biasa, ada banyak kenangan juga intrik yang tak putus mewarnai kehidupan dari generasi ke generasi. Tak seperti pilar-pilar depannya yang kokoh, persaudaraan antara anak cucu keluarga Noordin justru semakin rapuh. Terlebih sejak wacana menjadikan rumah itu sebagai bangunan cagar budaya mengusik ahli waris rumah itu. Disisi lain, Inara Attaya Noordin justru sudah lelah menghadapi kecurigaan sepupunya-yang juga Walikota-jika dia adalah motor penggerak dibalik aksi penolakan terhadap perubahan status rumah warisan yang dikuasai Ayahnya. Bertentangan dengan kebiasaan genetik keluarga, dua rival itu dipaksa untuk saling mempercayai satu sama lain demi menyelesaikan masalah di rumah warisan yang menyimpan semua kenangan mereka. ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • OUR FAMILY [SJY&KMJ]
  • Duda Tampan Itu Suamiku (Kookmin GS)
  • Intan dan printilan nya (gen13)
  • WARISAN
  • Family Strength END✔️
  • Kepingan Dirham
  • Ragu Semesta

Menceritakan tentang satu keluarga yang begitu harmonis. "Lala tidak suka suara berisik Wira, menganggu." ucap seorang gadis kecil yang masih berusia tujuh tahun, Nada bicara nya biasa saja tetapi menusuk "Wira kan tidak bisu, Kalau Lala tidak suka keributan ya pergi saja sana!" jawab seorang anak laki-laki yang seusia dengan Lala. mereka kembar, tentu saja. "Berantem terus sih, Lala jangan begitu ya. Wira juga, saling maaf-maafan dulu" ucap ibunda- Sabila lula- mencoba menengahi pertengahan kedua bocah di hadapannya. tetapi Lala malah menaruh kedua tangan nya di depan dada dengan bibir maju beberapa centi "Kalau gamau maaf-maafan, Ayah engga mau beliin alat-alat lukis dan mainan buat kalian lagi." Ucap ayahanda- Jack Bert Wijaya- terdengar serius. Si kembar lantas saling pandang, dan yang pertama mengulurkan tangan adalah Wira. karena bocah itu takut sekali jika tidak di belikan mainan, menurutnya mainan itu separuh hidup nya. "Nah, begitu kan enak dilihat" Sabila dan Jack kompak tersenyum melihat kedua anak nya kembali akrab dan suasana terasa hangat. ⚠️LANJUTAN CERITA 'JATUH CINTA' ⚠️ Usahain baca cerita 'Jatuh Cinta' lebih dulu ya, tapi kalau engga mau juga ga masalah karena di cerita ini komplit. Tapi usahain yaa.. itung-itung bantu ramein cerita itu, hehe

More details
WpActionLinkContent Guidelines