We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Lelaki Tak Bercerita

Lelaki Tak Bercerita

  • WpView
    Reads 38
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 28, 2024
WpInfo
Non-Fiction
Lu pernah nggak sih, ngerasa ada sesuatu yang berat banget di dalam diri lu, tapi lu nggak tau harus gimana ngungkapinnya? Rasanya pengen banget cerita, tapi kata-kata itu nggak keluar-keluar. Lu cuma diem aja, padahal dalam hati lu tuh lagi bergejolak. Kadang, gue juga ngerasain hal yang sama. Bingung banget, pengen ngomong, tapi nggak ada yang bisa ngerti. Sebagai cowok, kita tuh sering banget dipaksa buat keliatan kuat, ya kan? Kayak nggak boleh nangis, nggak boleh terlihat lemah. Semua orang mikir cowok itu harus tegar, harus bisa mengatasi segala masalah sendiri. Tapi kenyataannya, kita juga punya perasaan, kita juga punya rasa cemas, takut, atau bahkan merasa kesepian. Cuma aja, nggak ada yang ngajarin kita buat ngomongin itu. Sering banget, gue ngerasa kayak harus nanggung sendiri semua masalah, karena takut dianggap lemah kalau cerita. Padahal, kadang yang kita butuhin cuma seseorang yang bisa dengerin tanpa ngejudge. Yang nggak ngeliat kita cuma dari luar doang, tapi ngerti kalau di dalam tuh ada banyak banget yang mau kita ungkapin. Cerita ini sebenernya buat lu dan gue, buat cowok-cowok yang sering merasa sendirian, tapi nggak tahu gimana caranya buat mulai cerita. Tentang gimana kadang keheningan itu jadi temen yang paling setia, tapi juga paling nyiksa. Karena ya, kita juga manusia, kita butuh tempat buat ngobrol, buat nge-share apa yang kita rasain. Lu nggak sendirian, bro. Gue juga ngerti kok rasanya, dan mungkin, lewat cerita ini kita bisa mulai belajar buat buka mulut, meskipun susah banget. Jadi, kalau lu siap, yuk bareng-bareng belajar buat ngomongin yang selama ini dipendem.
All Rights Reserved
#6
pencariandiri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • KITA BERBEDA (antara Aku, Kamu, dan Tuhan)
  • Remaja
  • I Love You
  • Love In Paris (COMPLETED)
  • Three Idiot Girls  ✔
  • Admire Or Love
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Antara Jarak Dan Waktu

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines