Mahatma Family [ On Going ]

Mahatma Family [ On Going ]

  • WpView
    Reads 948
  • WpVote
    Votes 151
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 8, 2026
Dimata dunia, Keluarga Mahatma adalah definisi kesempurnaan. Empire bisnis mereka membentang seluas samudera. Kekayaan mereka mengalir seperti air yang tak pernah habis. Wajah-wajah rupawan mereka menghiasi sampul majalah bisnis ternama. Ciri khas keluarga yang membuat semua orang iri. Tapi di mata Nael, mereka hanyalah sekumpulan orang yang lebih memilih citra dan bisnis dibanding nyawa seorang anak berusia 10 tahun. Tujuh tahun berlalu sejak hari itu. Hari dimana ia ditinggalkan sendirian di sebuah rumah tua di tepi hutan. Hari dimana ia bersumpah tidak akan pernah kembali ke keluarga yang membuangnya. "Terkadang di dunia ini kita hanya perlu mempercayai diri kita sendiri"-Nael Hartwin Mahatma. Oh! Lupakan dua nama di belakang karena sekarang namanya hanya Nael tanpa Hartwin apa lagi Mahatma.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Why Me? || Zhong Chenle
  • Ibu Aku Masih Butuh Pundakmu
  • DUNIA HAMPA
  • NALA KEENARA [Hiatus]
  • ANOTHER JOURNEY | Spin-off IN THE END ✔
  • Aseano Samudra [End]
  • Our Emergency Calls
  • 𝐒𝐞𝐫𝐩𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐀𝐬𝐭𝐚𝐦𝐚𝐥𝐚│〚𝐓𝐀𝐌𝐀𝐓〛
  • 𝐑𝐄𝐈𝐍𝐊𝐀𝐑𝐍𝐀𝐒𝐈 𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐀𝐌𝐔[ READY BOOK ]
  • Penyangkalan (Complete)
  • New Possessive Family
  • RAPUH [END]
  • Bukan Rumah
  • ALTRUIST
  • A R S E A N A
  • Ruang yang Tak Pernah Jadi Rumah
  • Hilang

(BROTHERSHIP + FAMILY) Jika mendengar kata rumah, apa yang langsung terlintas dipikiran? Mungkin orang akan berkata; itu seperti sebuah bangunan hangat, yang setiap kita datang membuka pintu, akan selalu ada orang-orang yang menyambut kita dengan senyum lebar. Tempat yang selalu membuat kita aman dan dapat berteduh dari kekacauan dunia. Atau kita melihat rumah seperti bangunan yang tidak mempunyai arti khusus, yang meski pulang dengan keadaan kacau balau, kita tetap tidak merasa keramahan dunia. Terkadang kita harus mengerti bahwa tidak semua rumah itu ramah. Tidak semua rumah bisa dijadikan tempat pulang, beberapa rumah justru memberi luka paling banyak. "Apakah suatu saat aku juga akan menemukan keharmonisan dalam kata pulang? Atau justru sama sekali tidak?" Pertanyaan itu selalu muncul setiap kali Naren menginjakkan kakinya di bangunan hampa yang ia sebut sebagai rumah. Naren selalu iri, iri dengan mereka yang memiliki keharmonisan dalam kata 'pulang.'

More details
WpActionLinkContent Guidelines