Catatan Sang Pendosa

Catatan Sang Pendosa

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 30, 2024
Manusia adalah makhluk munafik yang selalu memakai topeng untuk terlihat baik untuk menutupi setiap bangkai, kotoran, dan juga hal menjijikkan dibaliknya. Mereka menyembunyikan semua itu agar tidak ada celah yang bisa menjatuhkan mereka dari tempat ternyaman. Tapi ada juga yang menutupinya sebagai bentuk kepercayaan bahwa hidup mereka selalu terlihat baik, padahal mereka adalah pemberontak yang hebat yang menyembunyikan jati diri demi nama diri. Ada juga yang menutupi hasrat yang menjadi boomerang untuk diri mereka di hadapan orang terkasih. Seperti halnya perempuan anggun yang berada diantara kerumunan di tengah pesta meriah malam ini. Dia sungguh terlihat seperti seorang perempuan baik, cerdas dan mandiri kini. Bila mereka hanya menilai pakaian serta pencapaiannya, mereka akan mengatakan bahwa dia wanita terhormat yang tanpa cela. Seperti halnya yang terpampang pada pantulan kaca dihadapannya, pakaian ini sungguh sangat mengesankan dan elegan. Mungkin pakaian ini dapat menipu banyak orang yang melihatnya. Mereka yang melihat akan menganggap baik bila hanya melihat seseorang dengan pakaian yang terbuat dari serat sutra ini. Namun, nyata pakaian ini hanya menutupi tubuh dan akhlak di hadapan orang lain dan tak pernah dapat menutupi setiap dosa-dosaku yang dilakukannya di hadapan Tuhan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ujung Semenanjung
  • Dia, Manusia Bernama "Lelaki"
  • Senja Termendung
  • Not a Perfect Li(f)e
  • LOVE  SAID (Terbit Versi E-book)
  • Behind The Smile
  • Cahaya cinta Terakhir [On Going]
  • THE POWER OF MY EYES [BOYSTORY]

Minim bicara, datar, lempeng. Murah senyum dan tawanya tidak diobral setiap hari. Seolah harus ada hari spesial yang membuat Gunawan baru bisa merayakannya dengan gelak tawa. Sejak awal, Siwi Hasta Harini tahu lelaki seperti apa yang tengah ia bersamai. Namun, seperti yang banyak orang bilang; manusia itu serakus-rakusnya makhluk. Kata sempurna yang mereka duga di awal ikatan itu sudah mereka buang jauh-jauh pada tahun ke enam. Bagai berada di ujung semenanjung, tinggal menunggu angin menerbangkan dan membuatnya tenggelam. Dalam gelap, dalam ketidak berdayaan, keduanya hanya diberi dua pilihan. Yakni, tenggelam dengan saling menggenggam, atau menerima uluran tangan dari 'yang lain' milik masing-masing untuk membuat keduanya bertahan hidup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines