Kata orang, pantang jatuh cinta di kota rantau.
Karena kalau kamu patah hati, kamu akan membenci seluruh kota!
Terlambat!
Awan kelabu membayangi kota besar yang akan kutinggal pergi. Hujan deras mengguyur jendela di sampingku. Aku menatap nanar hamparan gedung tinggi penuh peluang.
Padahal dulu kota ini memanggilku, kota ini mengundangku dengan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.
Aku datang membawa harapan, memenuhi panggilan hati akan peluang yang lebih baik. Aku datang dengan pendar cahaya, seorang gadis muda pengembara, berusaha mencari dirinya dalam setiap titik di bumi ini.
Sampai aku bertemu dengannya. Mimpi yang kugenggam erat, kulepas begitu saja.
Keberadaannya familiar. Tatapannya mengingatkanku dengan sesuatu yang tidak asing. Terlebih wajahnya, teduh, layaknya wajah seseorang yang pernah kulihat di tempat yang aku tidak yakin nyata.
Terlambat!
Kemanapun aku pergi, dia ada disana. Aku melihat dirinya, di setiap sudut kota.
Ah, seandainya aku dulu memercayai kata orang.
Burung besi yang membawaku pergi, adalah pesawat yang sama yang mengantarku pulang. Tapi kini aku tidak pulang untuk berkunjung.
Aku pulang, untuk kembali kepada mereka yang kutinggal pergi.