Pernikahan (bukan) Impian

Pernikahan (bukan) Impian

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 20, 2025
Setiap wanita pasti menginginkan pernikahan yang bahagia. Katanya, bahagia yang dimaksud wanita bukanlah hanya sekedar diberi materi berlebih. Ketulusan cinta, kata-kata manis nan sayang, perhatian-perhatian kecil, itulah yang diimpikan setiap wanita pada pasangannya. Namun bagaimana jika hal kecil itu justru tidak pernah bisa untuk ia dapatkan sejak akad diikrarkan? Apakah itu termasuk sebuah kesalahan dalam pengambilan keputusan dalam memilih pasangan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Oddly Coupley (Complete)
  • Love Destiny
  • Imperfect Marriage
  • Can I Ask You a Question? (END)
  • My Love Teacher
  • Bidadari Untuk Ustadz
  • Shadows of Love
  • Candrawama

"Daripada gue susah-susah cari calon suami yang oke, mending nikah sama lo aja, Ren. Yuk!" Ucapan Sybil dibalas semburan kopi yang langsung membasahi wajah jelitanya. Sementara itu, Daren yang terkejut tidak bisa bicara apa-apa. Otak sahabat yang sudah dua belas tahun dikenalnya itu, sepertinya memang benar-benar eror. "Lo tau kan kalau gue itu..." ucapan Daren menggantung. "Tau. Makanya gue mending sama lo. Tau sendiri gue nggak ada tendensi buat nikah. Nah... kalau sama lo at least nggak berasa nikah kan. Kayak kita bisa jadi housemate aja. Cuma emang 'terikat' supaya nggak kena grebek." Syibil mengemukakan alasannya begitu lancar. "Tap..." "Lo juga dapat benefit dari ini. Status kita nanti cukup buat jadi tameng di depan keluarga lo juga. Gimana?" Kemampuan persuasi Sybil memang luar biasa. Penawaran darinya terdengar menggiurkan ditelinga Daren. Lelaki itu pun dengan mudah setuju dibuatnya. "Deal."

More details
WpActionLinkContent Guidelines