RANUM
  • WpView
    LECTURAS 33
  • WpVote
    Votos 9
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, ene 3, 2025
Nama yang seharusnya membawa kedamaian dan suka cita, kini hanyalah bayangan kosong yang sangat jauh dari kenyataan. Harapan akan ketenangan terkubur dalam diam, sementara kehidupan terus menggulung. Meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Ranum tidak menyangka kehidupannya akan berubah drastis, jauh dari kata cukup. Luka yang akan terus menerus ditumpuk luka baru, tidak akan pernah bisa Ia lupakan. Akan kah Ia bertahan menahan semuanya yang entah kapan akan berakhir? "Ayah sakit, ampun ayah." Meringis Ranum, dalam isaknya ia terus membatin meminta bantuan Tuhan yang entah kapan akan tiba. "Kaparat!!." "Hentikan tangisan sampah mu itu."
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • My Home ✔ (KARYAKARSA)
  • Could you be a home for me? [TAMAT]
  • AKU TAK PERCAYA CINTA, AYAH! (TAMAT)
  • Finding The Light ~ Moqeel  [COMPLETE]
  • SandalWood (Selesai) on revision
  • Hilang
  • Promise
  • acalapati
  • RENJANA DERANA [END]
  • Embrace again, Arnan

Terbangun di ranjang yang sama membuat Wisnu dan Wina terjebak di sebuah hubungan rumit. Hubungan yang membuat mereka saling terikat tanpa bisa terlepas meskipun Wina ingin. Wina perempuan yang begitu keras memaknai hidup harus terjebak dengan Wisnu, atasannya yang begitu suka menabur harapan dengan para perempuan. "Bapak nggak usah kesini lagi." "Tapi dia juga butuh saya, Wina. Jangan jadi perempuan egois." Ucap Wisnu dengan tatapan tertuju ke arah perut Wina yang sudah membesar. Wina yang terbiasa mandiri dalam hidup harus terus berada di jangkauan Wisnu untuk keselamatan calon buah hatinya. Belum sampai di sana saja, Wina harus di cap sebagai perempuan murahan karena hamil di luar nikah. "Jangan nangis Wina." Wisnu mengusap pipi Wina yang sudah berubah mengembang. "Tindakan kita yang salah tapi dia nggak salah." Sejak detik itu juga Wina sadar bahwa anaknya tidak bersalah disini, dan sebagai Ibu, Wina ingin melindungi calon buah hatinya. Sedangkan Wisnu menemukan rumah yang seutuhnya. Rumah yang menyambut dirinya dengan senang hati, rumah yang selalu menjadi pendukungnya seberapa buruknya ia di luar sana. **** Prolognya sedikit saja, lanjut besok. Ini kisah Wisnu dan Wina dari cerita Love is not Perfect

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido