RANUM
  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 3, 2025
Nama yang seharusnya membawa kedamaian dan suka cita, kini hanyalah bayangan kosong yang sangat jauh dari kenyataan. Harapan akan ketenangan terkubur dalam diam, sementara kehidupan terus menggulung. Meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Ranum tidak menyangka kehidupannya akan berubah drastis, jauh dari kata cukup. Luka yang akan terus menerus ditumpuk luka baru, tidak akan pernah bisa Ia lupakan. Akan kah Ia bertahan menahan semuanya yang entah kapan akan berakhir? "Ayah sakit, ampun ayah." Meringis Ranum, dalam isaknya ia terus membatin meminta bantuan Tuhan yang entah kapan akan tiba. "Kaparat!!." "Hentikan tangisan sampah mu itu."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • INVISIBLE CHAIN
  • Could you be a home for me? [TAMAT]
  • ELGITA  (TERBIT)
  • Rania: Melebur Trauma, Menyambut Bahagia
  • Dear of Natasya
  • Promise
  • SandalWood (Selesai) on revision
  • AKU TAK PERCAYA CINTA, AYAH! (TAMAT)
  • acalapati

𝐈𝐍𝐕𝐈𝐒𝐈𝐁𝐋𝐄 𝐂𝐇𝐀𝐈𝐍 (Rantai Tak Kasat Mata) Shayaan Rianzah Kendrick berpikir, kepindahannya ke kota baru sudah cukup untuk menghapus jejak masa lalu. Bahwa dengan mengganti pemandangan, ia bisa mengganti kenangan. Tapi ternyata, kenangan tak bekerja seperti itu. Mereka tak hilang. Mereka hanya menunggu. Di kota ini, Shayaan bertemu dengannya-seseorang yang memberinya rasa aman, sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan. Bersamanya, ia hampir percaya bahwa dirinya benar-benar bebas. Hampir. Sampai akhirnya, ia harus kembali. Dan di sanalah dia menunggunya. Pria yang dulu membuatnya pergi. Pria yang tak pernah benar-benar melepaskannya. Shayaan berpikir ia telah berlari cukup jauh. Tapi nyatanya, rantai yang mengikatnya tak pernah benar-benar putus. Mereka tak terlihat, tapi ia bisa merasakannya. Menjalar di kulitnya, menahan langkahnya. Sekarang, ia di persimpangan. Ia bisa mencoba lari lagi-tapi ke mana? Ia bisa melawan-tapi bisakah ia menang? Atau mungkin, ia hanya harus menerima bahwa beberapa rantai... tidak bisa dipatahkan. --------- percayalah saya tidak terlalu pantai untuk membuat sinopsi, tapi saya berharap kalian suka dengan cerita yang saya tulis, selamat menimkati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines