Nadine's story

Nadine's story

  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 14, 2025
"Tolong Nadine, mah", teriakkan seorang anak kecil perempuan berusia 4 tahun Yang tercebur di kolom renang rumah nya. Anak kecil tersebut tidak bisa berenang, yang membuat nya teriak meminta bertolongan. " Gitu aja ga bisa berenang hahaha, makanya jangan jadi anak manja",tawa seorang wanita muda yang melihat anak perempuan itu tercebur. setelah dia mendorongnya kedalam kolam renang rumah nya. Wanita tersebut adalah mama tiri dari anak perempuan tersebut. "mama ngapain di sini?", Ucap seorang anak kecil laki laki yang sedang berjalan menghampiri wanita itu. " Nadine!!, mah Nadine ga bisa berenang", panik anak laki laki tersebut " Nadine bertahan lah", teriaknya anak laki laki tersebut, dan ingin berlari untuk menolong anak perempuan itu. "Hey kamu ngapain bantu dia lebih baik ikut mama yuk ke meja makan, kita makan siang udah mama siapin makanan kesukaan kamu".ucap wanita tersebut. Dan lalu menarik tangan anak laki laki itu untuk menjauh dan meninggalkan kolam renang, yang masih ada anak perempuan di dalamnya. Apakah anak perempuan itu akan bertahan dengan hidupnya yang malang dan menjadi perempuan tangguh, atau akan menyerah? ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Hai guys ini adalah karya pertamaku jika masih ada yang kurang dan salah mohon dimaklumi ya dan aku akan menerima kritik dan saran dari kalian, I love you all♡
All Rights Reserved
#91
arlan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • BULAN [Selesai]
  • Karena Kamu Rumahnya
  • DeaSea
  • GERA (SUDAH TERBIT)
  • AIRA [On Going]
  • Luka yang Tak Terucap
  • AILAH(END)✅
  • Cold Prince
  • RIRI NATARI [END]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines