Aku, Dia, dan Hatinya yang Tertinggal

Aku, Dia, dan Hatinya yang Tertinggal

  • WpView
    Reads 45
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 11, 2025
Mia Rosaline adalah seorang perempuan dengan hati yang tulus. Dalam kisah cintanya bersama Alvaro Fayyaz Solehudin, Mia menemukan kehangatan yang selama ini ia cari. Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi duka ketika perlahan-lahan ia menyadari bahwa cintanya hanyalah pelarian bagi Alvaro, seorang laki-laki yang masih terjebak bayang-bayang masa lalunya. Alvaro, dengan segala pesona dan luka di hatinya, menjadikan Mia sebagai tempat bersandar dari sepi yang ditinggalkan mantan kekasihnya. Namun, ketika bayangan mantan itu kembali, Mia harus menghadapi kenyataan pahit: ia bukanlah tempat tujuan, melainkan sekadar persinggahan. Di antara rasa cinta dan pengkhianatan, Mia berjuang untuk menemukan harga dirinya. Sementara Alvaro, meski telah pergi, masih menyisakan hatinya yang tertinggal di sudut kehidupan Mia. Apakah Mia akan mampu menyembuhkan luka hatinya dan melangkah maju? Atau akankah ia terus terjebak dalam cinta yang tak pernah utuh? Cerita ini adalah perjalanan tentang kehilangan, memaafkan, dan menemukan kembali makna mencintai diri sendiri.
All Rights Reserved
#45
hatiyangterluka
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Echoes Of Goodbye (END)
  • NOT SAME (COMPLETE)
  • Back to Love
  • Lime of Euphoria
  • CAN YOU READ THE NEW CHAPTER FOR ME?
  • MAVZIVA
  • Darling Watch Me Win
  • Cinta Dan Kasih Sayang (Writing Temporarily Suspended)

Sembuh bukan tentang menemukan cinta baru, bukan pula tentang melupakan jejak yang pernah tertinggal. Sembuh adalah seni merangkul luka tanpa membiarkannya menguasai, membiarkan kenangan tetap ada tanpa menjadikannya belenggu. Bukan proses yang bisa kupaksa atau percepat, melainkan perjalanan sunyi yang penuh riak-riak ingatan-tentang tawa yang dulu menghangatkan, tentang janji-janji yang kini hanya gema di lorong waktu. Aku tahu, kamu pernah menjadi rumah, tempatku pulang tanpa ragu. Namun, rumah itu kini hanya bayangan, berdinding sunyi dan berisi ruang-ruang kosong yang tak lagi menyambutku. Aku tidak ingin menghapus setiap memori, karena bagiku, kenangan adalah musim yang datang dan pergi-tak perlu diusir, hanya perlu diterima. Maka aku memilih berjalan, bukan untuk meninggalkan, tapi untuk melangkah dengan luka yang sudah kujinakkan, dengan hati yang tidak lagi mencari, tapi mengerti bahwa tidak semua yang hilang harus ditemukan kembali. -Sharfina

More details
WpActionLinkContent Guidelines