Sheila Gabriella

Sheila Gabriella

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 25, 2025
Hanya se orang gadis kecil malang yang terjerumus dalam pusaran kesepian dan keputusasaan. Hari-harinya diisi dengan air mata dan pertanyaan tanpa jawaban. Ia mencoba mencari pelipur lara dalam kesendirian, namun bayang-bayang masa lalu terus menghantuinya. Dia adalah Sheila Gabriella, gadis 17 tahun yang hidupnya bagai kepingan kaca berserakan. Ia terperangkap dalam labirin keputusasaan setelah ditolak keluarga dan ditinggalkan teman. Di tengah kehancuran, seorang pria hadir bagai setitik cahaya. Sosok yang selama ini diam-diam mengaguminya, membawa harapan baru tanpa disadarinya. Sentuhan lembut dan perhatian tulus pria itu perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Sheila. Mampukah cinta mengubah takdirnya, ataukah luka masa lalu terlalu dalam untuk disembuhkan? Akankah ia menemukan secercah harapan di tengah kegelapan yang mencekam? "Apa salahku? Kenapa semua orang pergi?" "Apa aku memang tidak pantas dicintai?" "Mungkin... mungkin aku memang ditakdirkan untuk sendiri" " Sendiri dalam kegelapan abadi....."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Being a Good Papa [ End ]
  • Tuan Muda?
  • My Bad Girl Romance
  • Jutek
  • Gibran and possesive family
  • SHEINA
  • Aku Hanya Ingin Punya Rumah untuk Tempat Pulang
  • ZERGAN

Apa penyesalan dalam hidup yang pernah kalian alami? Kalau Arthan ditanya seperti itu, maka dia akan menjawab ; Menjadi pria yang tidak berguna, sekaligus ayah yang gagal. Setidaknya Arthan ingin sekali dalam hidupnya, dia melakukan hal-hal yang membuat keluarganya bahagia. Namun, hidup yang hanya sekali itu, dia habiskan untuk hal-hal yang sesat. Berjudi, mengabaikan anaknya setelah ditinggal mati oleh istri, dan terlilit hutang hingga rentenir terus berdatangan. Lantas, pada malam dia dikejar oleh rentenir dan anaknya, Alberix, disandera oleh rentenir, Arthan tertabrak truk dan tubuhnya terhempas begitu saja di aspal, hingga aspal itu digenangi oleh darahnya yang menyebar kemana-mana. Malam dimana penyesalan terus berdatangan. Lalu, dengan begitu saja, Arthan menutup mata dengan perasaan bersalah yang menumpuk di dalam dada. Hingga ketika ia membuka mata, bukan alam Barzah lah yang ia lihat, tetapi wajah anaknya yang datar saat sedang melakukan sarapan bersama. Arthan spontan menyeletuk, "Alberuk?" Alberix langsung bombastic side eyes. "Alberix, pa. Not Alberuk, apalagi beruk."

More details
WpActionLinkContent Guidelines