Story cover for Outside The Window by Rantai_Libra
Outside The Window
  • WpView
    LETTURE 58
  • WpVote
    Voti 11
  • WpPart
    Parti 2
  • WpView
    LETTURE 58
  • WpVote
    Voti 11
  • WpPart
    Parti 2
Completa, pubblicata il gen 03, 2025
Pernah gak sih ngerasa pikiran lagi buntu, kayak pengen ngehasilin sesuatu tapi gak tau mulai dari mana? Nah, di sini tempatnya segala hal random, absurd, tapi tetap relatable buat ngisi ulang energi kreatif kamu. Cukup buka jendela pikiran, dan siapa tahu ide-ide di sini malah bikin kamu senyum-senyum sendiri sambil bilang, "Eh, bener juga ya!"

Dari inspirasi kecil kayak cara ngelihat awan jadi cerita seru, sampai drama remeh yang bisa jadi kisah epic-semuanya ada. Gak ada batasan buat eksplorasi. Kadang kita lupa, hal-hal sederhana di sekitar tuh sebenarnya penuh kejutan. Kamu cuma butuh sedikit sudut pandang baru, dan voila, dunia di luar sana jadi kanvas bebas warna.

Jadi, apa yang bikin kamu nggak sabar buat buka jendela ini? Siap nemuin sisi lain dari segala hal yang kamu pikir udah biasa? Yuk, coba liat lagi-siapa tahu, ada yang ngetuk dari balik jendela itu.
Tutti i diritti riservati
Iscriviti per aggiungere Outside The Window alla tua Biblioteca e ricevere tutti gli aggiornamenti
oppure
#359kebahagiaan
Linee guida sui contenuti
Potrebbe anche piacerti
Potrebbe anche piacerti
Slide 1 of 9
Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓ cover
Self Injury's(complete)✔ cover
We Are One cover
baby boy cover
RHYTHM ( All Of Us Want To Be Happy ) cover
ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓ cover
Sepekan Penuh Sayang [Tamat] || Jeno & NCT Dream cover
Our Juvenile : MANGUN KARSA cover
Awal Bertemu Denganmu  COMPLETED ✔ cover

Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓

15 parti Completa

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."