Setelah kehilangan sahabatnya akibat kanker, Raya, seorang arsitek sukses, merasa hampa dan kehilangan arah. la meninggalkan Ibukota dan pekerjaannya, mencari arti kehidupan di sebuah desa terpencil. Di sana, ia menyewa sebuah homestay unik bernama "Canvas & Kertas Homestay" milik Alam, seorang pelukis dari desa.
Di penginapan yang sama, Raya bertemu dengan penghuni lainnya yang masing-masing menyimpan luka dan pencarian akan makna hidup: Oma Eli seorang mantan narapidana kasus pembunuhan, Gentong seorang komikus gagal, Zen musisi pop terkenal yang menghilang dari dunia hiburan karena skandal, dan Nara mantan jurnalis dan aktivis yang merupakan seorang ibu tunggal dari dua anak. Bersama Alam, yang dicintai penduduk desa karena kebaikandan keramahannya, mereka tak hanya menemukan kedamaian dan arti hidup bagi diri sendiri, tetapi juga tergerak untuk menghidupkan kembali potensi desa yang telah mati suri karena tragedi gunung meletus beberapa tahun lalu.
~~~~~~~~~
Di tengah keindahan alam desa dan kehidupan sederhana, Raya dan penghuni penginapan lainnya saling berbagi cerita, menemukan kekuatan dalam kelemahan masing-masing, dan belajar memaknai kehidupan yang lebih dalam. Mereka saling menyembuhkan, menemukan arti persahabatan, dan bersama-sama, dibantu oleh Alam dan keramahan penduduk desa, membangkitkan sektor pariwisata dan budaya di desa tersebut. Dengan kreativitas, kolaborasi, dan semangat kebersamaan, "Canvas dan Kertas Homestay" menjadi lebih dari sekadar penginapan. Di sana menjadi titik awal kebangkitan desa, tempat bertemunya jiwa-jiwa yang mencari makna, di mana setiap individu melukiskan kanvas kehidupan mereka sendiri, sekaligus bersama-sama mewarnai kembali kehidupan sektor pariwisata desa yang pernah mati suri.
Hendra dan Narendra Dewantara terlahir dengan beban yang tak mereka mengerti. Sejak kecil, mereka harus mendengar bisikan-bisikan bahwa mereka adalah anak pembawa sial. Namun, di balik semua itu, mereka masih memiliki kasih sayang dari kedua orang tua mereka-setidaknya hingga bayi kecil itu lahir.
Jovanka, adik bungsu mereka, hadir ke dunia dengan membawa perubahan besar. Kehadirannya mengubah segalanya. Orang tua mereka, Dewantara dan Cinthya, yang dulu begitu menyayangi mereka, perlahan menjauh. Semua perhatian, semua kasih sayang, semua harapan yang dulu diberikan untuk mereka, kini hanya tertuju pada satu sosok-Jovanka.
Hendra dan Narendra tumbuh dengan kebencian yang tak mereka pahami. Bagi mereka, Jovanka adalah alasan mereka kehilangan orang tua. Bayi mungil itu adalah penyebab semua kehancuran. Maka, tanpa sadar, mereka ikut menjauh. Mereka membiarkan adik mereka tumbuh sendirian dalam dingin, tanpa pelukan hangat seorang kakak.
Namun, waktu mengajarkan mereka banyak hal. Perlahan, kebenaran terungkap. Luka yang selama ini mereka kira milik mereka saja, ternyata juga terukir dalam diri Jovanka. Dan saat mereka menyadari itu, sudah terlambat. Adik mereka telah berjalan terlalu jauh dalam gelap, terjebak dalam luka yang tak pernah mereka lihat.
Kini, di antara penyesalan dan keinginan untuk menebus segalanya, Hendra dan Narendra berjanji. Mereka tidak akan membiarkan Jovanka menghadapi semuanya sendirian lagi. Tidak peduli berapa banyak duri yang harus mereka lalui, tidak peduli seberapa terlambat mereka menyadarinya-mereka akan memastikan adik mereka tidak lagi merasa sendirian.
Namun, apakah cinta dan penyesalan cukup untuk menyembuhkan luka yang telah terukir begitu dalam? Ataukah semua ini sudah terlambat?
Karena tak peduli seberapa besar keinginan mereka untuk melindungi, pada akhirnya hanya ada satu pertanyaan yang harus dijawab: apakah seorang pangeran yang telah kehilangan mahkotanya masih bisa menemukan rumahnya?