We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Dalvano (Satu Raga Dua Jiwa)

Dalvano (Satu Raga Dua Jiwa)

  • WpView
    Reads 440
  • WpVote
    Votes 51
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 20, 2025
WpInfo
Fanfic
BTS
" dasar anak tidak berguna !!!" " kenapa lo ga mati aja hah !!! dasar hama !!" "saya menyesal karena menjadikanmu anakku !!!" Makian Dan Hinaan sudah menjadi makanan sehari hari bagi seorang pemuda berwajah Manis bernama Alvano Kenandra Smith. Anak kedua Dari 3 bersaudara yang dibenci keluarga nya sendiri karena fitnah Dari sang Nenek yang tidak menyukai dirinya lantaran ia hanya anak angkat. hingga suatu kejadian membuatnya harus kehilangan nyawanya. bukannya ke alam baka, Alvano justru bertranmigrasi ke raga seorang remaja laki laki yang bernasib tidak jauh Dari dirinya bernama Dalvano Walter. "hah.. aku hanya mau bahagia, apakah begitu sulit?" "bahkan alam baka pun tidak mau menerimaku?" bisakah Alvano yang bertranmigrasi ke raga Dalvano menjalani harinya dengan baik? ataukah dia akan mati untuk kedua kalinya??
All Rights Reserved
#339
dingin
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • MAVAKA
  • GAVILEON [END]
  • LAZY GIRL
  • ALTRUIST
  • SACRIFIER | ONGOING and REVISION
  • ELVANO
  • I'M VINA NOT VIRA
  • Magical Family
  • Transmigrasi Arion Barendra [Hiatus]

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines