Kembali.

Kembali.

  • WpView
    Reads 93
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 4, 2025
Dan mungkin, inilah cara takdir membuktikan kuasanya. Nina tumbuh dalam pelukan ayahnya, di dunia yang sederhana namun penuh kasih. Hingga ibunya kembali, membawa janji kehidupan yang lebih baik. Nina mengikuti ibunya, berlari mengejar harapan yang tampaknya sempurna, namun hatinya tetap merasa hampa, terjebak dalam ekspektasi yang tak pernah ia mengerti. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukannya kembali dengan ayahnya, bukan pertemuan hangat di rumaha lama, melainkan di ruang pengadilan, di mana ayahnya duduk sebagai terdakwa. Perasaannya yang membuncah, dan seluruh cerita yang ingin Nina ceritakan, tertahan dalam kerongkongannya. Namun, biarkan sekali ini saja, biarkan Nina merasakan euforia yang telah lama ia dambakan.
All Rights Reserved
#81
hindia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • ✔️Become The Main Character's Sister : Transmigration Story
  • Suddenly Becomes Samara In The Novel
  • CENGKRAMAN DIRGA'S
  • Jangan Buang Aku, Ayah!
  • Duo Berandal yang Terculik✔
  • VANIA AND BOYS LOVE NOVEL!
  • NESTAPA [On Going]
  • Blue Trapped In BL Novel

"siapapun tante, adik ayah, adik bunda, tetangga atau simpanan ayah, aku anggap tante cuma benalu tau" ucapku memberi penekanan pada kata simpanan. Wajah Tante Dista terlihat terkejut. "heiii.."ia membentakku "ga pernah di didik ya sama bunda mu, ternyata bundamu itu ga becus jadi seorang ibu ya pantas saja ayahmu tergila gila pada ku" "kamu ga usah senang dulu, suatu saat nanti aku yang akan mengusirmu dengan tanganku sendiri" sambungnya Aku menyeringai "barusan kau buat pengakuan kan" tanyaku menatapnya jijik. Tante Dista terlihat kikuk. "hahaa..... Jadi kau memang simpanan ayah. Dan masih sanggup tinggal dirumah kami. Ga tahu malu"ucapku dengan penekanan di kata simpanan dan malu. "kauuu-"ucapnya tertahan ketika bunda mulai mendekati kami. Aku mendekat ke arah tante Dista tetap mempertahankan senyum palsuku. Menginjak kakinya dengan keras, dan pura pura mencium pipinya dengan mesra. Dia menjerit tertahan dan aku senang. Tanganku yang bebas menarik rambutnya yang terjuntai panjang. Dia meringis dan mencengkram tanganku kuat kuat. Bunda tak pernah tau itu. Bunda hanya tersenyum dan menganggap semuanya akan baik baik saja. Padahal aku dan tante Dista sedang menyiapkan strategi perang kami masing masing.

More details
WpActionLinkContent Guidelines