#Obsession: Between Love, Hate, and Revenge #Bukan Cerita Transmigrasi #Terinspirasi dari Cry, Or Better Yet, Beg Claudine Sullivan selalu tahu hidupnya bukan miliknya sendiri. Sebagai pewaris keluarga Sullivan, ia hidup sesuai aturan: sempurna, tak bercela, dan selalu di puncak. Hingga satu kejadian meruntuhkan segalanya-tunangan yang dijodohkan dengannya, Elyas Salvadore, kedapatan berselingkuh. Bukan dari kalangan bangsawan atau sosialita... melainkan Amelia Wigan, pembantu di rumahnya. Sebuah tamparan keras bagi harga dirinya. Yang membuatnya makin hancur, ini bukan sekadar skandal. Elyas benar-benar jatuh cinta pada Amelia. Bukan cinta biasa, melainkan cinta yang obsesif, gelap, dan membara. Amelia pun membalasnya dengan ketulusan yang membuat Claudine muak sekaligus... iri. Ia bisa menerima jika Elyas memilih seseorang di atasnya. Tapi ini? Seolah dunia menertawakannya. Seolah semua yang ia bangun-kesempurnaan, martabat, status-tidak berharga sama sekali. Namun Claudine bukan tipe yang menyerah. Jika Elyas ingin bermain kotor, ia akan bermain lebih kotor. Jika cinta mereka tulus, ia akan merusaknya. Bukan karena ia masih menginginkan Elyas, tapi karena ia tak akan membiarkan mereka menang. Namun saat Claudine menarik mereka masuk ke dalam permainan balas dendamnya, ia mulai terseret lebih dalam ke kegelapan yang tak pernah ia bayangkan. Elyas dan Amelia bukan sekadar korban, mereka adalah pemain yang sama berbahayanya. Saling mencintai, saling menghancurkan, dan siap menyeret Claudine ke dalam lubang yang mereka gali bersama. Pada akhirnya, ini bukan soal cinta. Ini soal siapa yang sanggup bertahan hidup dalam permainan penuh kebohongan, manipulasi, dan kepahitan.
More details