Pencuri Sejarah

Pencuri Sejarah

  • WpView
    LECTURAS 138
  • WpVote
    Votos 13
  • WpPart
    Partes 15
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, feb 26, 2025
WpInfo
Ficción
Histórica
Dwipantara, sebuah negeri yang dulu dibangun di atas semangat kebebasan dan keadilan, kini terjerat dalam kekuasaan Sangkar, sistem pemerintahan otoriter yang membungkam kebenaran. Sejarah bangsa dimanipulasi, dan warisan leluhur dihapus demi mempertahankan dominasi. Dalam bayang-bayang penindasan, tiga mahasiswa dengan latar belakang dan pandangan berbeda terjebak dalam konflik yang jauh lebih besar daripada hidup mereka sendiri. Laksamana Biru Laut, seorang mahasiswa, terobsesi mengungkap sejarah yang telah direnggut oleh Sangkar. Namun, skeptisismenya terhadap konspirasi membuatnya ragu untuk bertindak gegabah. Di sisi lain, Jenggala Anarki, anak dari pemilik platform berita oposisi, penuh keberanian namun cenderung nekat dalam menentang rezim. Mereka berdua sering bertentangan, tetapi semangat membara dalam hati mereka sama: melawan penindasan. Sementara itu, Sore, seorang pecinta buku yang idealis, berusaha menjadi jembatan di antara dua sahabatnya. Ketika pemilihan presiden mendekat, Sangkar 76 mulai menunjukkan cengkeramannya yang semakin kuat. Seorang calon presiden yang tak terduga muncul dari kalangan rakyat, Pak Rama, dosen sejarah dan budaya yang sederhana namun penuh integritas. Kehadirannya memantik harapan sekaligus ketakutan bagi mereka yang berdiri di kedua sisi kekuasaan. Namun, perjuangan untuk kebenaran tidak sesederhana yang mereka bayangkan. Persahabatan diuji, rahasia kelam terungkap, dan pilihan yang sulit harus diambil. Dalam upaya menggali sejarah dan melawan tirani, mereka menemukan bahwa terkadang musuh terbesar bukanlah pemerintah, melainkan ketakutan dalam diri sendiri. "Karena sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga bagaimana kita menuliskan masa depan." @yawnzonu 2025
Todos los derechos reservados
#577
history
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • RIMBA MERUN
  • Adakah SENGKUNI dalam dirimu ?
  • Pak Udin
  • Arkadia (Negara Tanpa Harapan) Edisi II
  • ELEGI ETERNA
  • Langit Yang Merenggut Cinta
  • Pertemuan Singkat ( Xodiac) END ✔️
  • Pengkhianatan Kata-Kata
  • The Real Endgame: Beyond Virtual Earth
  • Duduk Manis, Jabatan Datang (Terbit)

Di Rimba Merun, kami belajar di sebuah sekolah kecil yang nyaris tak pantas disebut sekolah. Atapnya bocor. Dindingnya reyot. Buku-bukunya lebih tua daripada sebagian guru kami. Tetapi dari tempat itulah kami mengenal dunia-aku, Elang yang terlalu pintar, Badar yang hampir selalu mendapat nilai nol tetapi mampu membaca sungai seperti buku, Lee, Boih, Munisa, Seruni, dan anak-anak lain yang percaya bahwa kehidupan tak mungkin lebih rumit daripada ujian Matematika. Kami keliru. Hari-hari kami sebelumnya hanya dipenuhi perkara-perkara penting: menangkap ikan di Way Semah, melempar batu sampai dua puluh pantulan, berlari tanpa alas kaki, menghindari hukuman guru, dan mempertaruhkan harga diri dalam perlombaan-perlombaan yang hadiahnya bahkan tidak ada. Sampai suatu hari, orang-orang asing datang ke Rimba Merun. Mereka membawa peta tanah. Lalu menancapkan patok-patok ke tanah yang sejak lahir kami anggap milik kami. Awalnya kami tidak peduli. Orang dewasa selalu mempunyai urusan aneh yang tidak menarik bagi anak-anak. Namun patok-patok itu semakin banyak. Hutan mulai ditandai. Tanah mulai diukur. Orang-orang Dusun mulai berbisik. Dan suatu hari kami menyadari sesuatu. Garis patok itu menuju sekolah kami. Saat itulah permainan berakhir. Kami hanyalah anak-anak dusun. Kami tidak mempunyai uang, kekuasaan, ataupun orang penting yang bisa dimintai pertolongan. Yang kami punya hanyalah sebuah sekolah reyot, persahabatan, beberapa sepeda tua, keberanian yang kadang muncul pada saat yang salah-dan Elang, yang mulai mencurigai bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di Rimba Merun. Kami belum tahu bahwa usaha mempertahankan sekolah kecil itu kelak akan membawa kami berhadapan dengan orang-orang yang bahkan orang dewasa takut menyebut namanya. Dan kami sama sekali belum tahu bahwa suatu hari nanti, sebuah kata akan dituduhkan kepada kami. MAKAR. Padahal waktu itu, kami bahkan masih kesulitan memahami perkalian tujuh.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido