Unforgiven : The Edge of Despair

Unforgiven : The Edge of Despair

  • WpView
    Reads 413
  • WpVote
    Votes 41
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing16m
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 10, 2025
Dunia dan segala kerumitannya.. Terlalu rumit untuk menentukan mana yang benar...mana yang salah...yang mana kebaikan...yang mana kejahatan... Batas antara kebaikan dan kejahatan sering kali tidak lebih dari sebuah garis tipis yang hampir tak bisa dibedakan. Dalam setiap tindakan manusia, terdapat nuansa abu-abu yang tak terduga. Di mana niat dan keadaan berbaur dalam cara yang rumit. Manusia hanya mampu melihat apa yang nampak di depan mata, namun begitu sulit melihat apa yang tersembunyi di balik tirai moralitas yang menyelubungi suatu keadaan. Kebaikan dan keburukan... Tak ada seorang pun manusia yang benar-benar bisa memilahnya... Entah itu seorang penguasa... Tidak pun seorang hakim yang maha bijaksana... Yang kita tahu bahwa kita semua adalah pendosa...
All Rights Reserved
#27
sickstory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Past and Present - Original story
  • Taruhan Cinta [𝓒  ]
  • Untuk Anggun, Dari Aisy
  •  Sangue Trovato | complete
  • BABY ANGEL || Junkyu
  • ESCAPE: Tale of Obsession and Longing
  • The Secret Ex-WIFE
  • KIM'S: HIS STELLA | C | ✔️
  • Don't Go [Sehun EXO Fanfiction]

Lelucon macam apa ini, Tuhan? Kenapa setelah delapan tahun, Kau kembali mempertemukan kami? Kenapa disaat aku mulai melupakan dia? Dia masih sama, bahkan bertambah tampan. Dengan bahunya yang tegap dan dadanya yang bidang. Dia masih sama. Suka sekali menggoda ku. Suka sekali melihat aku malu. Suka sekali melihat ku marah-marah. Laki-laki ku yang manis dan ramah telah berubah menjadi pria dingin tak berperasaan. Dan saat aku mendengar suaranya, aku tahu bahwa semuanya tidak lagi sama seperti dulu. -Alexis Rima Wijaya Aku tidak tahu takdir seperti apa yang Kau tuliskan untukku. Aku tidak tahu kenapa setelah delapan tahun berlalu, Kau kembali mempertemukan kami. Memposisikan dia sebagai sekretaris ku, memungkinkan aku untuk selalu melihatnya. Dia masih sama, bahkan bertambah cantik. Dengan rambut coklat nya yang bergelombang dan senyum manis yang selalu terukir diwajahnya. Dia masih sama. Bahkan caranya merona malu saat ku goda. Caranya berbicara dengan ku saat sedang marah. Gadis kecil yang manis telah berubah menjadi wanita dewasa dengan segala pesonanya. Dan saat aku tahu bahwa aku tidak pernah melupakannya, aku sadar bahwa kenyataan membuat semua tidak lagi sama seperti dulu. -Ferdinand Surya Sumirat

More details
WpActionLinkContent Guidelines