Sinopsis
Muhammad, cowok dari Subang yang sibuk banget-kuliah, kerja, dan (diam-diam) jatuh cinta. Nika, gadis Kendari yang super dewasa dan cerdas, tiba-tiba masuk ke hidupnya lewat aplikasi voice chat. Apa yang bikin Muhammad terpikat? Sederhana: logat "geh"-nya yang bikin hari-hari berat terasa kayak komedi romantis gratis.
Awalnya, hubungan mereka berjalan mulus. Chatting setiap hari, teleponan sambil ketawa-ketawa, bahkan Muhammad mulai merasa hidupnya lebih bersemangat (plus lebih hemat kuota gara-gara fokus chatting sama Nika doang). Tapi ya, hidup nggak selalu seramah emoji love. Suatu hari, Nika bilang mereka perlu "jaga jarak" karena, menurutnya, terlalu sering chatting itu nggak semestinya.
Muhammad shock. "Apa salahku, Nika? Apa logatku kurang menarik?" Tapi Nika tetap tegas. "Kalau serius, doain aja. Kalau Allah izinkan, kita bakal dipertemukan lagi." Dan di situlah hati Muhammad kena plot twist.
Alih-alih drama nangis di pojokan, Muhammad belajar menerima keadaan dengan cara yang agak greget: dia tetap semangat memperbaiki diri sambil diam-diam nge-stalk status WA Nika (buat sekadar tahu kabar). Jarak ternyata nggak cuma bikin rindu, tapi juga bikin Muhammad sadar: cinta yang baik itu adalah yang bikin kita jadi versi terbaik dari diri sendiri.
"Jarak sebagai Guru Kehidupan" adalah cerita penuh tawa kecil, harapan besar, dan pelajaran hidup yang bikin hati hangat. Ini bukan sekadar kisah cinta, tapi juga perjalanan untuk belajar sabar, ikhlas, dan percaya kalau takdir itu punya cara kerja yang keren banget (walau kadang ngeselin).
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang