A Melody He Couldn't Hear

A Melody He Couldn't Hear

  • WpView
    Reads 59
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 19, 2025
Sebuah perasaan memang tak bisa kita genggam. Ia yang bebas berlari kemana saja, berlabuh di tujuan yang tak pernah diduga. Seperti suara, yang mengalun indah di udara. Terbang bebas mengikuti arah mata angin, tak terikat, namun tak pernah hilang. Karena cinta seperti sebuah perasaan, tak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Terkadang, ia tumbuh diam-diam di sela-sela retak yang tak bisa orang lain lihat, menjalar pelan namun pasti. Mereka tak perlu bersuara untuk saling mengerti, cukup sepasang mata yang saling menatap dan hati yang selalu mendengar. Sebab cinta, tak harus selalu terdengar. Terkadang, cinta hanya butuh untuk dirasakan.
All Rights Reserved
#381
lagu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dalam Diam(End)
  • Tanpa Restu
  • CINDY : Sebelum Aku Pergi
  • Never Be The Same
  • RIVALKU PARTNER HIDUPKU (TERBIT)
  • Yang Tak Pernah Kembali - On Going
  • Aku, Kau, dan Novel [Completed]
  • Semu
  • Kata yang Kutulis untuk Didengar

Sequel cerita Wattpad Khadijah dan senyum Khatan Khayla terlahir tanpa kemampuan berbicara, tetapi itu tidak membuatnya lemah. Dengan bahasa isyarat, ia belajar berkomunikasi dan mengekspresikan dirinya. Namun, tidak semua orang bisa menerimanya. Sejak kecil, ia kerap menghadapi ejekan dan perundungan, hingga hanya ada satu orang yang selalu berdiri di sisinya Rafi. Bagi Rafi, Khayla bukan sekadar sahabat. Ia adalah seseorang yang ingin selalu ia lindungi, meskipun perasaan yang tumbuh di hatinya tetap ia simpan rapat-rapat. Namun, semua berubah saat Bram, teman lama mereka, kembali di SMA. Kehadiran Bram membuat Rafi menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan-rasa cemburu yang perlahan menguasai hatinya. Di sisi lain, Khayla harus menghadapi Nadine, seorang gadis yang tidak menyukainya karena merasa Khayla menghalangi jalannya menuju Bram. Perundungan kembali menghantuinya, lebih parah dari sebelumnya. Tapi kali ini, Khayla tidak ingin hanya bergantung pada orang lain. Ia ingin melawan, ingin membuktikan bahwa meskipun ia tak bisa bersuara, bukan berarti ia tidak bisa didengar. Ketika kata-kata tak selalu bisa diucapkan, dapatkah cinta tetap tersampaikan? Atau justru akan terus terpendam dalam diam?

More details
WpActionLinkContent Guidelines