The Letter

The Letter

  • WpView
    Reads 69
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 28, 2025
Di tengah malam, sebuah amplop misterius terselip di bawah pintu kost Certa. Tidak ada nama pengirim, tidak ada nama penerima, hanya berisi sebaris alamat yang asing baginya. Dorongan rasa penasaran membuatnya membuka pintu, namun yang tertinggal hanyalah kesunyian yang mencekam. Mengikuti jejak misteri itu, Certa membiarkan dirinya dituntun ke sebuah rumah tua yang telah lama ditinggalkan. Menghadapkannya pada serangkaian kejadian aneh yang tak dapat dijelaskan logika. Bayangan samar di sudut mata, suara-suara yang berbisik dari balik dinding, dan rahasia yang perlahan terkuak-semuanya menuntunnya pada satu pertanyaan besar: Siapa yang mengundangnya ke tempat ini? Dan lebih penting lagi... mengapa? Di dalam rumah itu, kebenaran yang terkubur mulai bangkit. Namun semakin dalam Certa mencari jawaban, semakin ia menyadari bahwa ada sesuatu-atau seseorang-yang juga mengamatinya. Sesuatu yang ingin rahasia itu terbongkar. . . . Original story by : Xatire_Hechste Cover by : Pinterest + Edit
All Rights Reserved
#110
maleprotagonist
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dunia Yang Bernyanyi
  • Silent
  • Jejak Dalam Diam [SELESAI✓]
  • Jejak bayang
  • SILENCED AT 302 [END]
  • Senja Di Kegelapan Malam [HIATUS]
  • Perihal Dia Dengan Sejuta Tawa (END)
  • Guy Next Door [Sunoo] | Completed ✓

Di sebuah senja yang menggantung redup di ufuk abad ke-8, ketika dunia masih dipenuhi bisikan mantra dan bayangan makhluk tak kasatmata, sekelompok remaja dari desa pinggiran dilanda kebosanan yang menyesakkan. Mereka hidup di zaman ketika sihir bukan sekadar cerita, melainkan napas yang mengalir di antara hutan-hutan purba dan reruntuhan batu kuno. Demi mengusir jenuh, mereka memutuskan menyusuri jalan setapak yang belum pernah disentuh kaki mereka, jalan yang konon dihindari para tetua karena dianggap "terlupakan oleh cahaya". Langkah demi langkah membawa mereka semakin jauh dari dunia yang mereka kenal, hingga akhirnya mereka berdiri di hadapan sebuah rumah tua yang nyaris runtuh. Dindingnya diselimuti lumut hitam, jendelanya gelap seperti mata yang kehilangan jiwa, dan udara di sekitarnya terasa dingin, seakan waktu sendiri enggan menyentuh tempat itu. Tak ada tanda kehidupan, hanya keheningan yang terlalu dalam untuk terasa wajar. Rasa penasaran, yang dalam dunia sihir seringkali lebih berbahaya daripada pedang, mengalahkan naluri mereka. Tanpa memahami tanda-tanda kuno yang terukir samar di ambang pintu, mereka melangkah masuk. Sekejap saja, dunia berubah. Lantai kayu berderit seperti merintih, dan udara dipenuhi aroma dupa terbakar serta darah yang telah lama mengering. Saat mereka menoleh ke belakang, pintu yang mereka lewati telah lenyap, digantikan oleh dinding batu yang dingin. Mereka bukan lagi di masa mereka sendiri. Rumah itu ternyata bukan sekadar bangunan tua, melainkan gerbang terkutuk yang mengikat jiwa-jiwa pada masa lalu yang kelam. Mereka kini terperangkap di era di mana sihir hitam merajalela, di mana pengkhianatan dan ritual terlarang meninggalkan luka pada waktu itu sendiri. Bayangan-bayangan bergerak tanpa tubuh, bisikan terdengar tanpa sumber, dan mata-mata tak kasat mengawasi setiap langkah mereka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines