Mira
  • WpView
    Reads 259
  • WpVote
    Votes 123
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 29, 2025
"Lo pikir, jadi anak pinter tuh gampang? Enggak, Bebs. Kadang nilai 100 cuma nutupin luka yang enggak bisa sembuh." Mira hidup di dunia yang kelihatan sempurna dari luar. Ranking satu? Udah biasa. Juara lomba? Apalagi. Tapi siapa yang tahu kalau di balik semua prestasi itu, Mira cuma cewek kesepian yang haus kasih sayang? Orang tuanya cuma peduli sama nilai. Teman? Nggak ada yang beneran kenal Mira. Sahabat? Lupa rasanya. Pacar? Jangankan pacar, ngobrol sama orang aja kayak ngomong sama tembok. Di balik senyum tipis dan suara lembutnya, Mira sebenarnya lelah sama ekspektasi orang-orang. Tapi... gimana caranya kabur dari hidup yang udah kayak penjara ini? "Gue capek jadi anak yang 'sempurna'. Tapi kalau gue berhenti, siapa yang bakal peduli?" Masih ada satu orang yang peduli - pelayan pribadinya. Orang yang selalu ada buat Mira, meskipun nggak pernah dapat terima kasih. Tapi... cukupkah itu buat nyelamatin Mira dari rasa kosong di hatinya? Ini cerita tentang rasa sakit yang tidak pernah terlihat. Tentang anak-anak yang tumbuh tanpa pelukan. Tentang Mira, yang mencari arti dari kebahagiaan sesungguhnya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Breathe
  • Sepotong Kata yang Tak Selesai
  • Ms. Moody & Mr. Arogan[STILL ON PROGRESS]
  • When Two Hearts Collide
  • Arsyilazka
  • Time Loop
  • AMERTA : The Last Embrace
  • Insecure [REVISI]
  • "Biarlah: Sebuah Kisah Tentang Sunyi dan Luka"
Breathe

[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.] We all here have our own struggles. Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi. Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome. Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan. Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya. "Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul." -Twenty One Pilots-

More details
WpActionLinkContent Guidelines