Ironinya, dunia tidak runtuh karena kematian, melainkan karena keputusan manusia yang terlalu takut kehilangan kuasa. Zombie hanyalah akibat, hasil akhir dari keserakahan yang dibungkus kata kemajuan dan penelitian. Mereka yang berubah menjadi mayat hidup tidak pernah memilih nasibnya, sementara para pencipta bencana justru masih bisa bersembunyi di balik tembok aman dan kebohongan.
Ironis ketika yang disebut monster justru adalah korban, sedangkan pelaku masih dipanggil manusia. Zombie tidak berkhianat, tidak berbohong, dan tidak memanipulasi. Mereka hanya berjalan mengikuti naluri. Sebaliknya, manusia yang selamat tetap saling memangsa dengan alasan bertahan hidup, kekuasaan, dan kepentingan pribadi.
Dalam dunia yang hancur ini, kemanusiaan tidak diukur dari apakah seseorang masih bernapas, tetapi dari apakah ia masih mampu peduli. Saat nurani mati, tubuh yang hidup tak lebih dari sekadar walking dead versi lain-lebih rapi, lebih cerdas, dan jauh lebih berbahaya.
Maka pertanyaannya berubah:
bukan lagi siapa yang hidup atau mati,
melainkan siapa yang masih manusia.
Dion Alexander
Pria dewasa berusia 28 tahun, seorang Dokter yang memiliki sifat lembut juga seorang Ketua mafia yang terkenal akan kekejamannya dan kesadisannya, harus mati kecelakaan lalu lintas, namun bukannya mati malah bertransmigrasi ke dalam raga anak laki-laki berusia 13 tahun juga dia memasuki ke dalam dunia novel milik pasiennya