Takdir Yang Terulang

Takdir Yang Terulang

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 30, 2025
Hujan baru saja reda di sebuah sudut kota London. Aroma tanah yang basah bercampur udara dingin menyelusup ke dalam apartemen sederhana milik Alina, seorang perempuan 27 tahun yang tengah duduk di depan layar laptopnya. Matanya lelah, namun senyum tipis tersungging di wajahnya. Presentasi proyek yang telah ia kerjakan selama berminggu-minggu akhirnya rampung. Alina memandang keluar jendela, menatap bayangan dirinya di kaca. Tidak pernah ia membayangkan, gadis sederhana dari kampung kecil di Indonesia, yang dulunya harus tidur beralaskan tikar karena keterbatasan ekonomi, kini berhasil menjejakkan kaki di dunia yang berbeda-dengan gelar doktor di bidang ekonomi. Namun, di balik semua pencapaiannya, ada rasa kosong yang tak pernah benar-benar hilang. Ia merindukan aroma kopi hitam yang biasa diseduh ayahnya, masakan ibunya, dan suara tawa kakaknya, Dewi. Ponselnya bergetar. Nama Arsen muncul di layar. Alina tersenyum dan mengangkat telepon itu. "Sudah selesai kerja kerasnya?" Suara pria itu terdengar hangat di seberang telepon. "Baru saja selesai. Kamu sendiri?" "Aku lagi merapikan beberapa dokumen untuk rapat besok. Tapi sebenarnya aku lebih sibuk memikirkan kamu." Alina tertawa kecil. Mereka bertemu di konferensi bisnis di Paris tiga bulan lalu, dan sejak itu, Arsen selalu berhasil membuatnya merasa istimewa. "Kamu serius ingin ikut aku kembali ke Indonesia?" tanya Alina, mencoba memastikan. "Sudah berkali-kali aku bilang, Alina. Aku tidak hanya ingin bersamamu di sini. Aku ingin bersamamu di mana pun, termasuk di rumah kita nanti, di Indonesia." Kata-kata Arsen membuat hati Alina bergetar. Kembali ke tanah air bukan perkara kecil. Ia tahu hubungan ini bukan hanya tentang mereka berdua, tetapi juga tentang keluarga, tradisi, dan masa lalu yang tak sepenuhnya mereka kenal. Keputusan yang akan mereka buat tidak hanya akan mengubah hidupnya, tetapi juga mengungkap rahasia yang selama ini tersembunyi.
All Rights Reserved
#96
familyproblems
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALANA : A Stepmother's Journey to Love [ TELAH TERBIT ]
  • ALRIN
  • Jacaranda di Hutan Pinus
  • Dinamika Ditengah Arus Waktu
  • Falling for You - TERBIT
  • ANTAGONIS MOTHER || REVISI
  • Reborn (Mari Bersua)
  • Sekali Lagi (End)
  • ℤ𝔸𝕐ℕ

Alana Refasya adalah perempuan yang nyaris tak tersentuh, elegan, mandiri, dan dihormati di dunia mode. Di usia 32 tahun, namanya bukan sekadar label, melainkan simbol eksklusivitas yang bertengger di puncak industri. Setiap gaun rancangannya bukan hanya sekadar pakaian, melainkan seni yang membingkai keanggunan. Sosialita, selebritas, bahkan bangsawan berlomba mengenakan karyanya. Wajahnya menghiasi layar-layar raksasa di kota besar, terpampang dalam cahaya gemerlap yang menciptakan ilusi kesempurnaan. Namun, kesempurnaan adalah fatamorgana yang mudah runtuh saat berhadapan dengan kenyataan. Pernikahan dengan Erland Addison membawanya ke dunia yang tak pernah ia kenal sebelumnya, sebuah rumah yang megah, tetapi kehilangan makna sebagai tempat berpulang. Ada sesuatu yang salah di rumah ini. Mereka yang tinggal di dalamnya terlalu terbiasa untuk merasa tidak dicintai. Terlalu lama mengandalkan satu sama lain tanpa pernah benar-benar percaya bahwa mereka tetap membutuhkan sosok ibu atau pasangan hidup. Dan saat itu juga, kenyataan menghantam Alana dengan keras. Keluarga ini telah porak-poranda dalam genggaman perempuan yang seharusnya menjadi tempat pulang mereka. Hancur begitu saja. Mengikis keyakinan bahwa mereka pantas dan layak dicintai. Luka-luka lama mengakar begitu dalam, kepercayaan telah lenyap, dan di dalam rumah ini, rumah yang seharusnya menjadi tempat kembali-tidak ada ruang bagi siapa pun yang mencoba masuk. Anak-anak itu menatapnya dengan sorot mata waspada, seakan menunggu saat ia melakukan kesalahan. Mereka tidak butuh ibu baru. Mereka tak ingin percaya lagi. Dan Alana pun sadar... perjalanannya baru saja dimulai. Karena ia tahu, membangun rumah bukan sekadar memiliki dinding dan atap. Bahwa memenangkan hati tidak sesederhana merancang gaun yang sempurna. Dan di tempat ini, di antara hati yang telah lama kehilangan kepercayaan, ia mengerti satu hal, sekadar usaha tidak akan pernah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines