The Art of Letting Go

The Art of Letting Go

  • WpView
    Reads 292
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 34
WpMetadataReadComplete Sat, Mar 8, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Awan menatap gadis di hadapannya dengan sorot mata yang meneduhkan, seperti mencoba menerjemahkan setiap rasa sakit yang tak bisa terucap. "Yang penting itu bukan siapa yang akan tinggal atau pergi nantinya, tapi yang paling penting itu gimana cara lo belajar buat menerima dan mengikhlaskan. Kehilangan gak akan terasa sesakit itu lagi kalau lo tahu caranya," kata Awan. Perlahan, ia mengamit jemari Letta. Gadis itu sempat berusaha melepasnya, namun Awan menggenggam lebih erat, memberi kehangatan di tengah dinginnya angin yang menyelinap dari jendela kamar yang terbuka. Letta terdiam sesaat, menunduk, namun akhirnya suara pelannya pecah. "Gimana caranya?" "Nanti Kita berdua yang bakal cari tahu hal itu sama-sama, Let."
All Rights Reserved
#18
school-romance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elegi Rasa : Pergi
  • By Your Side
  • PERLINA
  • Langit Senja [end]
  • Untuk Oreo dan Kamu [OG]
  • I (Space) You
  • LANGIT [OPEN PRE-ORDER]
  • Fingerprint (Dangerous)✅
  • Lintang-Langit [OPEN PO]
  • Tawamu dan kupu-kupu

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines