Arca Terakhir: Kisah dibalik Legenda 1000 Candi Prambanan
Dewi mengira skripsi arkeologinya tentang relief Kalpataru akan berakhir di perpustakaan kampus. Namun, sebuah pendar biru misterius menyeretnya menembus dinding waktu, melemparnya tepat ke pusat neraka abad ke-9: reruntuhan Kerajaan Boko yang baru saja lumat oleh api peperangan.
Ia terbangun dalam bebatan kemben beludru yang menyiksa paru-paru, mendiami tubuh Roro Jonggrang-sang putri tawanan yang takdirnya telah tertulis dalam legenda untuk menjadi arca batu.
Tumbukan Dua Dunia:
Di satu sisi, Dewi membawa logika abad ke-21 yang dingin dan sebuah ponsel dengan layar Google Maps yang tak berguna di tengah belantara Jawa kuno. Di sisi lain, ia berhadapan dengan Bandung Bondowoso-bukan monster haus darah seperti yang diceritakan buku sejarah, melainkan seorang Warlord predator dengan tatapan pemujaan absolut yang mampu meruntuhkan benteng pertahanan paling rasional sekalipun.
Catur Pengkhianatan:
Di antara gairah gelap sang penakluk, Dewi harus merayap di antara bisikan berbisa Patih Sinduro-ular politik yang berniat menjadikannya boneka kekuasaan. Dewi sadar, ia tidak bisa hanya diam menunggu fajar. Ia harus menggunakan kecerdasan modernnya untuk memanipulasi takdir, membangun seribu candi bukan sebagai syarat penolakan, melainkan sebagai portal pelarian.
Namun, saat portal dimensi itu akhirnya terbuka dan Roro Jonggrang yang asli menuntut kembali takdirnya, Dewi dihadapkan pada satu pertanyaan yang mematikan:
Apakah ia akan memilih kembali ke masa depan yang serba instan namun hambar, atau tetap tinggal di pelabuhan terakhirnya-di pelukan sang penakluk yang telah menjahit cintanya dalam setiap pahatan batu andesit?
Sebuah subversi legenda tentang pengkhianatan, kedaulatan jiwa, dan frekuensi Maha Cinta yang melampaui batas seribu tahun.