BECAUSE OF A DREAM

BECAUSE OF A DREAM

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 13, 2025
Bagaimana perasaanmu jika sesuatu yang terjadi terlambat kamu sadari? Apakah kamu akan menyesal? Apakah kamu akan berandai-andai?. "Andai saja aku tidak melakukan hal itu semua tidak akan seperti ini", "Seandainya aku tidak terlambat", "Seandainya aku mendengar dia". Apakah akan seperti itu?. Jelas!! sangat jelas kalau kata seandainya sudah terucap, semua yang dilakukan pasti baikan. Tapi percuma karena itu hanya tinggal sebuah ucapan, ya ucapan dan tidak akan pernah terjadi lagi kecuali kamu mempunyai mesin waktu dan kamu diberikan keajaiban sama Tuhan, ya tentu bisa. Tapi, ingat kita hanya sebatas manusia yang tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa merubah sesuatu yang telah terjadi kecuali atas izin Tuhan. Jadi, sebelum melakukan sesuatu berpikirlah dulu karena yang diberikan keistimewaan oleh Tuhan kepada kita ya akal pikiran. Jangan sampai karena tidak berpikir resiko ke depannya, kita sebagai manusia semena-mena melakukan sesuatu. Itu akan membuat Tuhan marah dan mungkin bisa saja kamu diberikan ujian karena perilakumu sendiri.
All Rights Reserved
#350
cintasejati
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Nakula
  • Salah Status
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Prahara Lamaran [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines