Tahta Tanpa Mahkota

Tahta Tanpa Mahkota

  • WpView
    Reads 69
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 27, 2025
Is it funny, how goodbyes are just the other way to say hello? Apakah kalian yakin hanya kita yang berada di bumi? Langit biru yang elok ini sejernih matamu, dingin tetapi menghanyutkan. Ditengah keindahan ini, aku terpuruk dalam renungan, membayangkan momen ketika kita berada 'di sana'. Langit laut yang memesona, aku dapat melihat beragam jenis ikan berenang riak di atas sana, dan tanah ini sungguh lembut bak awan. Namun, yang paling menyenangkan adalah saat kau berada di sampingku, setelah terikat oleh sebuah impian dengan segala perjuangan yang kita lalui untuk mencapai tempat ini. Apakah aku pantas berada di sisimu, Yang mulia? Mengapa kau tetap mendekatiku, meski aku terus menghindarimu? Semua ini demi kebaikan kita. Aku ingin sekali melihat 'dunia lain' bersamamu. Jadi kumohon, jangan pergi dan tetaplah disini bersamaku. "Lihat di sana, Ra! Ada konstelasi Dromeda. Katanya, konstelasi ini dinamai menurut seorang putri fana dalam mitologi yang diselamatkan dari Kraken oleh pangerannya, lalu ditempatkan di antara bintang-bintang setelah kematiannya oleh dewi Athena. Menurutmu, apakah mitos ini hanya ilusi atau sebuah petunjuk, Ra?" Kata-katamu menggema, membawa kita menuju jalan yang penuh tanya. Apakah kita mampu menemukan 'dunia lain' itu, Van?
All Rights Reserved
#522
spy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Misi Kalisa (End)
  • transmigrasi figuran End (Revisi)
  • Villain x Villainess
  • ALIF 2 : AGEN[IUS]
  • DEAR ANNETHA
  • Crimson Veil
  • Blonde & The Cold Heart [TERBIT]
  • LENTERA PADAM
  • The Last Birthday With You

"Ngapain lo!" Suara seseorang menyadarkanku, membuatku berbalik lalu menatapnya intens. Cowok belagu lagi. "Menurut lo, gue ngapain disini?" Ucapku setelah satu detik mencoba setenang mungkin. Dia menatap langit langit perpustakaan. Lalu menatapku kembali. "Lo ngadem kan," ucapnya dingin. Dia bukan bertanya, lebih tepatnya nuduh. "Sotoy banget lo!" Ucapku ketus tapi masih kategori pelan. "Aneh aja. Cewek kaya lo meluangkan waktu di perpus, apalagi sekarang nyari buku di rak matematika," ucapnya datar. "Emang kenapa?" Sahutku mulai kebawa emosi. Dia tersenyum miring. "Nggak pantes!" Ucapnya sambil mengeja. Lalu meninggalkanku dengan tersenyum devil. "Kenzo," panggilku berhasil membuatnya menoleh. Risih banget pertama kali manggil namanya. "Keren doang ya muka lo, tapi mulut lo busuk!" Mampus lo! Sakit hati sakit hati lo. Bodo amat dah. "Jadi gue keren?" "What?" Aku shock mendengarnya. "Thanks ya," ucapnya tersenyum sekilas sebelum benar benar meninggalkanku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines