Hujan dan Rahasia (END)

Hujan dan Rahasia (END)

  • WpView
    Reads 6,285
  • WpVote
    Votes 3,009
  • WpPart
    Parts 36
WpMetadataReadComplete Sat, Mar 29, 2025
"Apa aku terlihat seperti pembunuh di matamu, Clara?" *** Di tengah kota yang terus terguyur hujan, Clara Adelina merasa diawasi. Namun, Arkalios Thane-pria penuh pesona dengan rahasia yang tersembunyi-mampu membuatnya merasa aman. Saat cinta mulai tumbuh, bayangan seorang pembunuh berdarah dingin semakin mendekat. Apakah Arkalios bagian dari teka-teki kelam ini, atau hujan menyembunyikan rahasia yang jauh lebih gelap? Ketika kepercayaan menjadi pertaruhan, akankah Clara memilih cinta atau justru berlari dari kegelapan yang mengintainya?
All Rights Reserved
#11
cintadandosa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Xagala
  • Lelaki Bermantel Panjang
  • SEAN
  • Kesempatan Kedua Mengubah Masa Depan
  • SAYAP YANG PATAH
  • Let's Make A Happy Marriage
  • KAELVOSS
  • RESONANSI PELURU
Xagala

Sosok yang tampaknya lahir ke dunia hanya untuk menghancurkan apa pun yang ia sentuh. Xakia tidak pernah bisa melupakan bagaimana tatapan mata itu berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan pada malam jembatan. Bagaimana ia hampir kehilangan segalanya. Dan bagaimana semuanya berakhir dengan satu pukulan keras satu hantaman yang membungkam monster itu. Gala, pria yang muncul entah dari mana, adalah sosok yang penuh misteri. Setelah malam itu, Xakia mulai melihatnya lebih sering. Selalu di tempat-tempat yang tidak seharusnya ia ada. Selalu dalam situasi yang tidak bisa dijelaskan. Seolah-olah ia adalah bayangan yang mengikuti Xakia, seseorang yang tahu lebih banyak dari yang seharusnya. Sekarang, di bawah hujan yang mengguyur tanpa henti, mereka kembali bertemu. Xakia menatap Gala dengan mata yang penuh pertanyaan. "Kenapa kau selalu muncul? Apa yang kau inginkan dariku?" Gala menghela napas, menyapu rambut basahnya ke belakang. "Aku tidak menginginkan apa pun." Suaranya tenang, tapi ada sesuatu di baliknya sesuatu yang tidak Xakia mengerti. "Lalu kenapa kau memukulnya?" Xakia menatap tubuh yang tak bergerak di tanah, darahnya bercampur air hujan, mengalir menuju lubang drainase di pinggir jalan. Gala tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tubuh itu sejenak, lalu berbalik menghadap Xakia. "Karena jika aku tidak melakukannya, kau tidak akan pernah bisa lari." Ketegangan di antara mereka begitu pekat, seolah udara sendiri menahan napas. Lalu, sirene polisi mulai terdengar di kejauhan. Lampu merah dan biru berpendar di balik rintik hujan. Gala menatap Xakia dalam-dalam. "Kita harus pergi. Sekarang." Dan tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan Xakia, membawa gadis itu pergi dari malam yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines