Sebelum baca. Ada wejangan buat kalian nih: jangan lupa follow, vote, dan komen yah. Hehehe, luvvvyuuu!🤗
___
Bagi Elvira, menjadi anak tengah berarti harus mandiri. Makanya, dia memilih kuliah sambil bekerja, mencari beasiswa agar tidak terlalu membebani orang tua. Padahal orang tuanya termasuk golongan kaya raya.
Semua berjalan sesuai rencana-sampai dia diterima kerja di sebuah kafe dan harus berhadapan dengan bos super nyebelin yang lebih menyeramkan dari dosen killer.
Bosnya itu... Dingin, tegas, perfeksionis. Tatapan matanya aja bikin lutut Elvira lemas. Tapi ketika tahu ada beasiswa khusus untuk karyawan, Elvira sadar satu hal: bertahan di bawah tekanan adalah satu-satunya pilihan.
"Beasiswa itu khusus untuk karyawan yang serius bekerja disini. Kalau kamu anggap ini kerjaan sementara, gak usah harap bisa dapat. Tapi kalau memang kamu serius untuk belajar dan bekerja, saya akan mempertimbangkan."Ucap bosnya menatap Elvira dengan pandangan datar.
Elvira menunduk, lalu mengangguk pelan. "Saya serius, Pak. Saya ingin kuliah saya lancar, dan pekerjaan ini juga penting untuk pengalaman saya."
Bosnya mengangguk kecil "Bagus. Saya kasih waktu kamu satu bulan. Kalau kerja kamu selama itu memuaskan, kita baru bicara soal beasiswa."
Satu bulan? Dengan atasan seperti Dia? Bisa gak, ya?
Yang awalnya cuma ingin bertahan demi beasiswa, lama-lama Elvira mulai menyadari sesuatu. Tentang bosnya, tentang dirinya, dan tentang perasaan yang seharusnya gak pernah ada.
Apakah Elvira benar-benar hanya ingin beasiswa? Atau ada alasan lain yang membuatnya enggan pergi?
-
Penasaran sama ceritanya? Yuk baca aja!
Noted: Cerita hasil pikiran dan imajinasi author sendiri. Jika ada kesamaan tokoh maupun latar, itu hanya sebuah kebetulan.
Tolong yah jangan jiplak cerita ini.
"Pembaca yang bijak, adalah pembaca yang menghargai karya. Tanpa harus menjiplaknya."
Jangan lupa juga vote, follow, dan coment. Biar author semangat untuk lanjutin ceritanya sampai tamat.
[SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE, FOLLOW BIAR BISA BACA] Ketika Azka memutuskan untuk melamar Ara tepat satu jam setelah pengumuman kelulusan. Sesuai janjinya pada waktu itu, Azka takkan pernah meninggalkan Ara sampai kapan pun. Azka benar-benar menjadi lelaki yang sangat posesif dan over protektif.
Namun, semua berubah ketika Azka memilih untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Idealisme dan circle pertemanan yang Azka dapatkan perlahan membuat hubungannya dengan Ara mulai merenggang.
Sementara Ara yang memutuskan bekerja paruh waktu di sebuah cafe hanya bisa berharap, Azka benar-benar masih menjaga janjinya waktu itu.
"Lo udah berubah, Az. Lo bukan Azka yang gue kenal. Ortu gue udah percaya banget sama lo. Tapi di belakang mereka, lo nya malah gini. Gue bener-bener kecewa sama lo."
"Kak Ara! Aku cuman ngerjain tugas proyek dari dosen!"
"Mana ada proyek dosen yang ngijinin mahasiswanya mesra-mesraan berdua."
"Kak! Dari awal Kak Ara sendiri kan yang ngotot pengen aku kuliah!!"
"Gue pengen lo kuliah karena gue gak mau lo jadi bahan omongan tetangga, Az! Lo pinter, sementara gue enggak! Gue gak mau jadi pengaruh buruk ke lo! Sebisa mungkin gue jaga derajat kehormatan keluarga lo! Cewek bodoh kayak gue... mustahil dapet cowok sempurna kayak lo, Az. Tolong, ngertiin posisi gue..."
Start : 20 Juli 2021
End : 21 Agustus 2021
[SEQUEL HE IS MY BOY(FRIEND)]
[High School Project #3]