THE MOON EMBRACING THE SUN

THE MOON EMBRACING THE SUN

  • WpView
    Reads 75
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 24, 2026
Sebuah kisah tentang sang matahari dan sang bulan. "Naga emas yang memeluk bulan akan menimbulkan bencana pada bulan itu sendiri. Ketika bulan itu terus berada dekat dengan matahari, maka bulan akan berubah menjadi merah. Semerah darah. Dan bulan itu berada dalam bahaya." --- Dinasti Wang, 1785 Musim semi yang indah di negeri Zhongguo. Semua yang bertahan hidup akan berjalan di satu pilihan takdir. Xiao Yiran hanyalah seorang rakyat biasa yang menjadi yatim piatu setelah terjadinya pembunuhan massal oleh kelompok misterius tak dikenal beberapa tahun yang lalu. Namun dibalik kisah hidupnya yang kelam dan kelabu itu, ada hal luar biasa. Ia tak menyangka hanya karena tanpa sengaja menolong seorang pria asing, mampu membawa perubahan besar pada hidupnya. Pria asing itu adalah seorang pengusaha besar dari Jepang yang memiliki koneksi dengan jaringan mafia terkuat sepanjang sejarah. Dia .... Seorang pria yang menyimpan sejuta misteri dan teka teki dihidupnya. ENJOY !! Mei,2026 Original story & Permitted by ©Stepcherry
All Rights Reserved
#109
wangyibo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • The Villain Mother
  • The Last Yes!
  • Chasing Sanara
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines