CHARTREUX || Mark × Haechan AU

CHARTREUX || Mark × Haechan AU

  • WpView
    Reads 5,326
  • WpVote
    Votes 527
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 10, 2025
[TERBIT] Kecintaan pada makhluk berbulu menggemaskan pengaruh dari sang ibu, menjadikan Channi menaruh iba pada seekor kucing abu yang tengah diusir oleh penjaga kantin sekolah menggunakan sapu. Dunia keilmiahan yang digeluti sang ayah, Johny Suh, tak serta-merta membuat Channi terseret juga ke dalam dunia yang dikenal dengan rasa ketidakpuasan dalam suatu hal. Oleh karena ketidakpuasan tersebut, banyak anak yang kehilangan tujuan hidupnya, meraung pilu dibalik dinginnya kaca yang membatasi kebebasan, hingga pada akhirnya kematian yang membawanya pergi dari dunia. Kehadiran kucing abu itu, membawa Channi ke dalam sisi gelap pekerjaan sang ayah yang selama ini tak begitu dipedulikannya. Diikutsertakan dalam event Writing Marathon with Betterfly Production ©ChLeo (@Moominn_njun)
All Rights Reserved
#140
writingmarathon
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • SATU RAGA SERIBU LUKA |
  • Renjana [COMPLETED]
  • Ice Cream; Jaemin & Jeno
  • Kosan Malapetaka
  • KOS MEWAH : MEPET SAWAH
  • 7DREAM | Transmigrasi Jeno ✓
  • Kompleks Tumbuh²an (NCT Parody) ✔️

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines