Arkalea

Arkalea

  • WpView
    Reads 39
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 27, 2025
Alea, gadis SMA yang tampak tenang dan bersinar di luar, menyembunyikan badai di dalam tubuhnya-penyakit ginjal yang perlahan menggerogoti, diam-diam dan sunyi. Ia terbiasa menyimpan luka, terbiasa meredam isak dalam diam. Terbiasa berpura-pura kuat, bahkan di hadapan teman-teman dan keluarganya yang retak. Hingga hadir Arka-laki-laki dengan mata yang selalu hangat, dari keluarga yang utuh dan hati yang lapang. Ia tidak datang untuk menghakimi atau menuntut tahu, tapi hadir dengan cara yang sabar, menunggu sampai Alea mau membuka pintu. Bukan untuk menjadi pahlawan, tapi untuk menjadi rumah. Di antara ruang-ruang sekolah, sore-sore yang temaram, dan detak waktu yang kadang menyakitkan, mereka belajar merawat luka yang tak sama. Bersama teman-teman yang mulai mengerti dan perlahan merangkul, Alea menemukan bahwa tidak semua hal harus ditanggung sendiri. Bahwa mencintai hidup, meski perlahan, masih mungkin. Ini adalah kisah tentang pelarian yang berujung pada penerimaan. Tentang penyakit yang tak hanya menyerang tubuh, tapi juga menguji keberanian untuk jujur dan berharap. Tentang cinta yang tidak melulu tentang bahagia, tapi tentang tetap tinggal, bahkan di saat dunia meredup.
All Rights Reserved
#382
kayla
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Almost Us
  • LUKA ALLEA
  • Waktu?
  • Dalam Rintik yang Sama
  • Anak Angkat & Keluarga Posesif
  • Saat Hati Tak Lagi Menunggu

Kalau ada satu orang yang selalu bikin Aira kesal tiap pagi masuk kelas, jawabannya cuma satu: Arga, si tukang ejek, tukang senyum miring, tukang nyebelin-tapi entah kenapa, hatinya selalu deg-degan tiap cowok itu datang. Bagi Arga, ejekan itu caranya menjaga jarak dari rasa yang terlalu dalam. Karena sesungguhnya, Aira bukan sekadar teman sekolah biasa. Ia adalah gadis kecil bermata sedih yang pernah ia tolong saat jatuh di jalan berlumpur puluhan tahun lalu. Gadis kecil dengan seragam sekolah dan pita merah di rambutnya, yang tersenyum malu-malu dan bilang terima kasih... sebelum akhirnya berlarian ke arah keluarganya yang sepertinya akan pergi meninggalkan rumah. Arga ingat. Aira tidak. Saat mereka dipertemukan kembali di usia dewasa-di sekolah yang sama, di kelas yang sama-Aira sudah menjadi perempuan yang dingin, keras kepala, dan angkuh. Tapi bagi Arga, ia tetap anak kecil yang dulu pernah ia bantu, yang senyumnya pernah membuat hatinya hangat. Arga mengenali Aira,, Arga ingat jelas nama gadis kecil yang ditolongnya dulu dari nama di seragam sekolahnya. Aira kaisha eliana. Jadi Arga memilih satu cara untuk mendekat: ejekan. Setiap ledekan, setiap adu mulut kecil, adalah bentuk rindunya yang lama dipendam. Tapi Aira? Ia terlalu bangga untuk bertanya, dan terlalu tertutup untuk merasakan. Dan ketika cinta sudah hadir di hati Aira, mereka harus berpisah untuk selamanya. Arga hanya menerimanya meski hancur, hanya kata selamat. Lalu pergi. Dan tak pernah kembali. Mereka bukan siapa-siapa. Bukan sepasang kekasih. Bukan sahabat. Tapi pernah saling jatuh cinta diam-diam-dan itu cukup untuk dikenang seumur hidup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines