Penghuni Kost Pa Yoo
  • Reads 150
  • Votes 63
  • Parts 13
  • Reads 150
  • Votes 63
  • Parts 13
Ongoing, First published Jan 20
Mature
Kost Pak Yo adalah sebuah bangunan sederhana yang penuh cerita. Dengan 8 kamar yang berjajar rapi, tujuh di antaranya sudah ditempati oleh para penghuni yang, meski disebut manusia, lebih mirip kawanan badut sirkus. Mereka sering kali menjadi sumber hiburan-dan sakit kepala-bagi Pak Yo.

Mulai dari suara gitar sumbang yang dimainkan tengah malam, aroma eksperimen masakan gosong dari dapur, hingga diskusi hangat yang lebih mirip debat presidensial di ruang tengah, semuanya menjadikan kost ini penuh warna.

Namun, meski sering terlihat memijat pelipisnya sambil menghela napas panjang, di lubuk hati Pak Yo sebenarnya menyimpan rasa sayang kepada "anak-anak reognya." Baginya, setiap ulah mereka adalah bumbu penyedap kehidupan yang tak tergantikan-meskipun kadang rasanya terlalu pedas.

Tetapi, satu hal yang selalu menjadi misteri di Kost Pak Yo: kamar ke-8 yang kosong. Bukan karena tak ada yang mau menyewa, tapi karena setiap kali ada yang mencoba, mereka pergi dengan alasan yang tak pernah jelas. Pak Yo hanya mengangguk bijak setiap kali topik ini muncul, seolah tahu sesuatu yang tidak dia ceritakan.

Dan begitulah Kost Pak Yo, tempat di mana kehidupan, drama, dan tawa berbaur menjadi satu. Kalau kamu mau masuk ke dalam cerita ini, hati-hati saja dengan kamar ke-8 itu, ya. Siapa tahu... ada yang sedang menunggumu di sana.
All Rights Reserved
Sign up to add Penghuni Kost Pa Yoo to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓ cover
Nakshatra cover
Koa's Little World  cover
✧ OM GUMARA ✧ cover
NOTSAD ¦ HAECHAN cover
Jejak Tak Kasatmata (End)  cover
DNA: Blood doesn't mean you're FAMILY cover
BECAUSE OF RAIN cover
KHADIRU ARMAGA  cover
Melody In Ramadan (TERBIT) ✓ cover

Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓

15 parts Complete

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."