Unspoken Secrets | JessNdah

Unspoken Secrets | JessNdah

  • WpView
    LECTURAS 991
  • WpVote
    Votos 67
  • WpPart
    Partes 7
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, ene 8, 2026
WpInfo
Ficción
Romance
"Aku rela, Ndah. Kamu dicintai dia sepenuhnya, daripada sama aku... yang bisanya cuma nyakitin kamu." Jessi berdiri di ambang batas yang menyakitkan. Di matanya, Indah adalah pusat semesta yang harus ia lepaskan agar tetap bersinar. Ia memilih mundur, membiarkan Oniel mengambil alih posisi sebagai pelindung, tanpa menyadari bahwa diamnya Jessi justru menciptakan badai di hati yang lain. Bagi Jessi, cinta terkadang berarti menjadi orang asing yang paling peduli. Namun, bagi Indah, keheningan Jessi adalah luka yang menganga. "Aku kira cinta kamu akan terus berlabuh ke aku," gumam Indah lirih. "Jess... ternyata aku salah." Dari kejauhan, Indah menyaksikan segalanya. Ia melihat bagaimana Jessi menatap Flora Shafiq-tatapan yang terlalu fokus, terlalu dalam, dan menyimpan sisa-sisa masa lalu yang belum usai. Indah merasa dirinya perlahan memudar, kalah oleh bayang-bayang trauma yang dibawa kembali oleh Flora ke dalam hidup Jessi. --- Di tengah tarik-ulur perasaan itu, Flora hadir sebagai luka lama yang kembali berdenyut. Ia bukan sekadar masa lalu; ia adalah rahasia yang terkunci rapat di balik bibir yang gemetar. "Aku takut, Jess," bisik Flora suatu malam, suaranya nyaris pecah. "Kalau aku cerita... semuanya bakal hancur." Jessi tidak bisa berpaling. Bukan karena ia masih mencintai Flora dengan cara yang sama, tapi karena ia tahu bagaimana rasanya hancur sendirian. Ia memilih untuk tetap tinggal, menjadi sandaran bagi trauma Flora yang gelap, meski ia tahu keputusannya akan menghancurkan kepercayaannya dengan Indah. Unspoken Secrets adalah sebuah perjalanan tentang orang-orang yang memilih bungkam demi melindungi satu sama lain. Tentang persahabatan yang diuji oleh masa lalu, dan cinta yang dipaksa berdiri di atas kepingan rahasia. "Kadang," Jessi menarik napas panjang, menatap langit yang kian menggelap, "yang paling menyakitkan itu bukan kebohongan. Tapi semua yang kita pilih buat nggak kita omongin."
Todos los derechos reservados
#291
ondah
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Nakula
  • Salah Status [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido