Bylora adalah gadis yang tumbuh di bawah bayang-bayang ambisi ayahnya. Sejak kecil, hidupnya telah diwarnai oleh tuntutan yang seolah tak pernah ada habisnya. Nilai sempurna, peringkat tertinggi, dan masa depan gemilang. Dunia bisnis adalah jalan yang dipaksakan padanya, jalan yang tidak pernah ia pilih. Tapi apa sebenarnya yang diinginkan ayahnya? Apakah ini demi masa depan Bylora, atau hanya sekadar ego dan obsesinya mempertahankan nama besar keluarganya?
Di balik tuntutan itu, Bylora menyimpan luka yang tak terlihat. Ibunya telah tiada sejak ia berusia 10 tahun, meninggalkan ruang kosong yang tak pernah bisa diisi. Kakaknya, satu-satunya orang yang pernah menjadi pelindungnya, memilih menjauh, melarikan diri dari bayang-bayang sang ayah yang mencekik. Kini, hanya Bylora yang tersisa, terperangkap dalam dunia yang bukan miliknya.
Tapi apa sebenarnya yang ia cari? Apakah ada tempat untuk kebebasan di tengah rantai ambisi yang melilitnya? Apakah ia memiliki keberanian untuk melawan, atau akan terus menjadi bayangan dari ambisi ayahnya? Dan jika ia melawan, apakah itu akan menghancurkannya, atau justru menjadi awal dari cerita yang baru?
Hidup Bylora adalah teka-teki, penuh pertanyaan yang belum terjawab. Setiap keputusan membawa risiko besar, dan setiap pilihan mengarah pada masa depan yang tidak pasti. Namun satu hal yang pasti, jawaban atas semua pertanyaan itu akan menentukan: apakah ia akan terus tenggelam dalam ambisi sang ayah, atau berhasil menemukan dirinya yang sejati?
Usia Gemini kelewat matang untuk seorang wanita yang masih melajang. Hampir tiga puluh lima tahun, dan dia masih sendiri. Gemini sudah mati rasa ketika sepuluh tahun lalu gagal menikah. Dia tidak percaya dengan yang namanya cinta, paling tidak dia tidak merasa dicintai kecuali oleh keluarganya sendiri.
Gemini tidak memiliki niatan untuk melepas masa lajangnya meskipun kakaknya sudah mewanti-wanti Gemini untuk segera menikah. Dia sudah nyaman dengan kehidupannya yang serba sendiri sampai ketika seorang bocah lelaki sekolah dasar merecoki hari-harinya yang tenang.
Dia tidak terlalu suka anak-anak, apalagi kalau nakal. Zion, bocah SD yang baru pindah dari Surabaya ke Jakarta dan selalu mampir ke coffee shop nya bersama dengan pengasuhnya hanya untuk mengganggu keseharian Gemini.
Awalnya Gemini hanya diam, membiarkan Zion melakukan apa saja yang dia suka karena bagaimanapun dia adalah pelanggan, dan pelanggan adalah raja. Tapi lama kelamaan Gemini juga tidak tahan. Kesabarannya hancur buyar seperti tisu yang disiram air. Dengan lantang dia membentak Zion dengan kata-kata yang tidak pantas. Dan sialnya, kali ini disaksikan oleh ayah anak itu.
Gemini dalam masalah besar.....