Si Cantik Gemoy

Si Cantik Gemoy

  • WpView
    Reads 2,664
  • WpVote
    Votes 89
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 7, 2025
Memiliki tubuh yang berisi, menjadi tantangan tersendiri bagi Cantika Jelita. Apalagi dia bersekolah di SMA Karya Bangsa, salah satu sekolah elit yang notabenya anak-anak hits berprestasi dengan tampilan fisik yang good looking. Perkataan, gendut, gembrot lontong, buntelan, drum, sudah biasa disematkan padanya. Tapi, Cantika yang cuek, tak peduli dengan ucapan mereka, hingga suatu ketika dia melihat Chandra Wiguna, yaitu sahabatnya dari kecil sekaligus tetangganya jalan bersama teman sebangkunya. Seketika, Cantika merasa bahwa tampilan fisik juga penting. "Chan, gue cantik nggak?" "Cantik." "Otak Lo geser ya? Bentuk gue kaya buntelan gini Lo bilang cantik?!" "Ya, Lo memang Cantik, Moy. Sama seperti nama Lo. Cantik Jelita." "Kalau dibandingkan gue sama Bella, cantikan siapa?" Chandra tertegun. 'Shit! Pertanyaan jebakan buat gue.' Don't Plagiarisme ‼️
All Rights Reserved
#224
gemoy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
  • Because I'm Stupid (End)
  • Dewandra
  • Black and White
  • Always Insecure✓
  • Rentetan Rasa (Completed)
  • Find A Way to My Heart (SUDAH TERBIT)
  • ARTAN
  • MaYnOr

Sekolah. Sekedar ladel atau judul untuk bangunan yang menjulang tinggi yang menerima ratusan remaja yang katanya menuntut ilmu pendidikan. Apa itu sekolah? Yang ia tahu tempat ini adalah jelmaan neraka atau versi terbaru, kecilnya. "Lo!!! Benar-benar licik!!" Teriakan itu meledak ke udara penuh emosi yang tidak bisa di jelaskan. "Hahahaha." Tertawa menggema, palsu, dan nyaring. Tangan terangkat menghapus jejak air mata gaib, padahal tidak ada air mata yang turun dari netra cokelatnya, mata itu kering tangis itu hanya sandiwara. Tawanya padam secepat kilat, seketika wajah itu berubah serius, seolah tidak pernah mengenal tawa. "Thanks for the praising to me." Wajah yang tadinya tertawa ceria langsung tergantikan dengan wajah yang berubah dingin, bahkan aura mengintimidasi mencekam lawan. "Gue nggak suka basa-basi," katanya pelan tapi menusuk. "Keluar dari sekolah ini dan point nilai lo untuk gue! Atau......." Senyumnya miring dan beracun terukir. "Scandal lo gue sebar," tersenyum smirk. Menatap wajah gadis di depannya yang sudah pucat. "Lo ngancem gue??" Sebisa mungkin siswi bernama Velena itu terlihat berani. Ia tidak mau kelihatan takut di depan gadis dengan tai lalat di ujung mata kanannya itu. "No!" "Hanya memberikan saran," ujarnya santai." Saran gue ini bagus, nyelametin lo dari rasa malu, kedepannya."

More details
WpActionLinkContent Guidelines