Caffeine Serenade

Caffeine Serenade

  • WpView
    Reads 153
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 8, 2026
Mel tidak pernah menyangka bahwa kesepiannya di kota rantau akan membawanya pada sebuah pertemuan yang meninggalkan jejak. Sebuah aplikasi kencan mempertemukannya dengan Dan, seorang barista dengan percakapan ringan dan perhatian kecil yang terasa cukup untuk membuat hari-hari Mel sedikit lebih hangat. Dari secangkir kopi dan pesan-pesan sederhana, hubungan itu tumbuh tanpa nama, tanpa arah yang jelas, tapi perlahan menjadi tempat pulang sementara. Waktu berjalan, dan kehadiran tidak selalu berarti menetap. Ada rasa yang dibiarkan menggantung, ada jarak yang tidak pernah dibicarakan, hingga akhirnya semuanya berhenti tanpa benar-benar selesai. Caffeine Serenade adalah kisah tentang pertemuan yang tidak diminta, hubungan yang tidak diberi nama, dan keberanian untuk berhenti menunggu tanpa harus membenci apa yang pernah terasa hangat. Published 24 Januari 2026
All Rights Reserved
#3
mel
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa
  • Almost Married (On Going)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Satu Tahun Saja
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Merciless Ex Obsession
  • Salah Status
  • Daddy Sitter 21+ (END)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines