Sayap Yang Membawa Luka

Sayap Yang Membawa Luka

  • WpView
    Dibaca 47
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Apr 1, 2025
WpInfo
Fiksi
Romansa
Menulis bukan hanya bertujuan untuk mencoret kertas dengan tinta-tapi menulis adalah cara untuk mengekspresikan diri, menyuarakan isi hati, dan memotivasi orang lain. Seorang gadis yang memiliki bakat, Rania, memiliki minat yang besar pada bidang Sastra. Rania merasa hidup ketika menulis, seolah energi tambahan untuknya. Tetapi, Ayahnya tidak suka melihatnya menulis cerita. Baginya, menulis cerita adalah membuang-buang waktu, hidup di bawah standar. Bisakah Rania berjuang dan terus terbang dengan sayap yang terluka? [Catatan]: Cover buku ini bukan properti pribadiku, beberapa objeknya di ambil dari Pinterest.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#289
inspirasi
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Rania: Melebur Trauma, Menyambut Bahagia
  • SYAKA & ZAHRA | PERJODOHAN
  • DENNIES
  • ALEYA~~
  • Bukan Cinderella Story
  • SIMALAKAMA💋
  • AKU DAN KAMU CINTA ♡
  • EPIPHANY

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan