We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
NAYANIKA
  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 24, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Sepeninggalan orang tua nya dari kecelakaan pesawat, satu persatu para Debt Collector mengambil semua barang barang di rumahnya. Sedangkan sang tuan rumah hanyalah gadis kecil berusia 7 tahun yang hanya bisa menahan sesegukan tangisnya. Melihat rumahnya berantakan tentu membuatnya sedih. Tap tap tap Suara langkah menjadi irama di dalam ruangan sunyi yang hanya di terangi oleh cahaya matahari yang masuk melalui celah kaca. Langkah itu berjalan menuju gadis, berhenti tepat di hadapannya. Dia pandangi sang gadis dengan pandangan yang datar tanpa ekspresi. Walau wajah nya terlihat datar, matanya tak bisa mengelak. Matanya memancarkan kesedihan, seperti kesedihan yang amat bermakna empati. Merasa ada yang melihatnya, dia pun mendongakan wajahnya. Dia melihat ada seorang pria yang tegap dengan bahu lebarnya. Sambil memandang kesana kemari sang gadis berbicara. "Maaf om, kami sudah tidak memiliki barang yang layak untuk di bawa." Sang pria yang mendengar itu langsung duduk dengan salah satu lutut di bawah. Dia sapu mata sang gadis dengan pandangannya yang menenangkan. "Saya ingin membalas Budi kepada keluargamu. Tinggalah bersama saya dan saya akan merawatmu hingga kamu dewasa." Setelahnya sang pria mengulurkan tangannya untuk di sambut dengan uluran tangan mungil sang gadis. Masih dengan tatapan yang menenangkan, membuat sang gadis merasa aman bersama sang pria. Dan setelahnya berbalaslah uluran tangan yang setia menunggu dengan uluran mungil yang penuh kepercayaan. Walau gadis itu tak mengenal siapa pria ini, namun dia percaya penuh pria ini akan merawatnya dengan baik dan penuh kasih sayang. Mereka menyusuri ruangan sunyi hingga meninggalkan rumah mewah itu. -ingin tau kisah selanjutnya? Kehidupan gadis kecil -sang Nayanika- bersama pria tegap -Askara-. Akankah ada cinta didalam hati keduanya. Bagaimana mereka menjalani hidup dalam satu rumah.
All Rights Reserved
#17
cintakeluarga
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Masa Itu ✔ (Tamat di Karyakarsa)
  • THREE LITTLE FOXES (END)
  • Mahligai Sunyi
  • Amor Almira
  • Apakah kamu ingin menikahiku?
  • OUR FAMILY [SJY&KMJ]
  • DANADYAKSA
  • Aksara Lingga
  • DIKANESHA

"Nggak ada perempuan yang baik yang mau sama pasangan orang!" Teriak Keira menatap sengit ke arah Bagas. "Kei!" Teriak Bagas membalas teriakan Keira. Disini Bagas yang salah, bukan perempuan kecil yang tengah ia gandeng bahkan perempuan kecil itu sekarang ketakutan bersembunyi di belakang tubuh Bagas. "Apa karena pernikahan kita berawal dari perjodohan kamu bisa seenak jidatnya membawa dia pulang?" Tangan Bagas yang bebesa memijat keningnya, ia tahu jika masa lalunya akan terkuak juga. Bagas disini bukan tidak menghargai Keira tapi ia tidak tahu hal apa yang harus ia lakukan. "Pelankan suara kamu Kei. Dia tidak bersalah." Pinta Bagas dengan nada sedikit mengiba. "Lantas kenapa dia ada disini? Kemana jal*ng kamu itu?" Keira sadar saat ia menikahi Bagas, Bagas memang masih memiliki kekasih. Tapi tidak harus membawa ekornya ke dalam pernikahan yang baru menginjak usia empat tahun ini, bukan? "Keira, stop bicara kasar. Lebih baik kamu masuk kamar. Aku mau mengantar Lala ke kamarnya." Putus Bagas dengan melangkah masuk ke dalam kamar yang dulunya ditempati tamu. "Kamu memang kelewatan Mas. Aku sadar jika aku belum bisa memberikan kamu anak, tapi jangan pakai cara seperti ini." Selesai mengatakan itu Keira bergegas ke kamar utama, ia membanting pintu sekerasnya. Langkahnya menyapu ruangan yang banyak memberi kenangan manis dengan Bagas, kedua tangannya mengambil koper dan menyiapkan beberapa barang yang akan ia bawa pulang. Harga dirinya sangat tinggi, jadi saat Bagas membawa anak itu kesini maka dirinyalah yang harus pergi. "Apa-apaan kamu, Kei." Bagas yang selesai menidurkan Lala sontak terperanjat dengan keadaan kamar tidurnya yang sudah seperti kapal pecah. Jangan tanyakan apa yang dilakukan Keira. Melangkah keluar, ia mengusap sisa air matanya. "Aku mau pergi dari sini, dan kamar ini seperti ini sama seperti hatiku."

More details
WpActionLinkContent Guidelines