BIANGLALA
Larasati kembali menapakkan kaki di sini.
Ditemani semburat jingga yang perlahan memudar dan pelangi sisa hujan, maniknya menatap jauh ke seberang sungai, tempat cahaya berputar lembut di permukaannya.
Ia telah kembali.
Ke kota yang pernah menyaksikan dirinya bertumbuh, ke tanah yang dulu menampung mimpi-mimpinya,
ke sebuah 'rumah' yang perlahan kehilangan wujud dan maknanya.
Hidup, baginya, berputar seperti bianglala-kadang di puncak, kadang di dasar; penuh warna, namun tak selalu indah.
Dan bagi Rinai Larasati, perjalanan pulang bukan untuk menemukan rumah,
melainkan untuk memahami bahwa warna yang paling sejati; tumbuh dari dalam dirinya sendiri.