We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
SECOND ME: Live in Sweety Wounds

SECOND ME: Live in Sweety Wounds

  • WpView
    Reads 59
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 1, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Normalnya, dalam satu raga hanya ada satu jiwa. Jiwa yang mengendalikan akan kemana kamu membawa ragamu pergi. Namun, bagaimana jika jiwa itu tidak sendirian? Kansa, gadis itu kembali menghampiri masa lalunya. Ia berharap hubungannya dengan sang pembuat kenangan bisa kembali seperti dulu. Atau setidaknya, tidak seperti sekarang. Tapi, Kansa tidak sendiri. Bahkan, tanpa keinginannya ada jiwa lain yang mengalihkan raganya. Terkadang dia berpikir, bisakah ia menyelesaikan semua perkara masa lalu itu? Kembali ke pelukan sang pembuat kenangan? Mampukah dia mengarungi semua rasa sakit itu? Lalu bagaimana dengan jiwa-jiwa ini? "Aku udah terlalu lama kabur" "Kalo ga berhasil?" "Aku gaakan menyerah sampai benar-benar berhasil" Kansa menatap lamat-lamat foto yang sebagian hancur itu. Kemudian beralih ke arah pintu kamarnya yang terkunci rapat. "Kalo kalian ga suka sama keputusan aku, pergi aja dari tubuhku"
All Rights Reserved
#22
kepribadian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Breathe
  • AMERTA : The Last Embrace
  • 15th Voltage [Tegangan 15] ✔(COMPLETED)
  • Paradise
  • psychologycal
  • Friend's Zone's
  • ON REMEMBERING
  • Kita Sembuh Bareng?
Breathe

[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.] We all here have our own struggles. Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi. Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome. Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan. Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya. "Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul." -Twenty One Pilots-

More details
WpActionLinkContent Guidelines