Aksara Kita

Aksara Kita

  • WpView
    Reads 187,796
  • WpVote
    Votes 13,042
  • WpPart
    Parts 75
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 18, 2025
Mohan Bagaskara diciptakan sebagai sosok yang terlihat dingin, pendiam, dan nyaris tak tersentuh, tetapi jauh di dalam dirinya, ada luka yang ia sembunyikan rapat-rapat. Ia adalah seseorang yang tumbuh dalam bayang-bayang ekspektasi, di bawah kendali ayahnya yang otoriter. Bagaskara tidak pernah benar-benar merasa memiliki tempat untuk pulang-rumahnya hanyalah bangunan, bukan tempat berlindung. Karena itu, ia memilih untuk menjaga jarak dari segalanya, agar tidak ada yang bisa menyentuh atau melukai dirinya lebih dalam lagi. Aqeela Gantari, di sisi lain, adalah cahaya yang tetap berpendar meskipun diterpa banyak luka. Ia belajar hidup dengan kehilangan, tumbuh dengan kekecewaan, dan bertahan dengan hati yang mungkin sudah lelah. Namun, berbeda dengan Bagaskara yang memilih menutup diri, Gantari tetap berusaha berdiri tegak. Ia tidak menunggu dunia menjadi lembut padanya, tetapi ia juga tidak membiarkan dirinya larut dalam kepahitan. Dalam penciptaan mereka, ada satu hal yang menjadi benang merah: keduanya tidak mencari penyelamat, tetapi mereka akhirnya menjadi tempat pulang satu sama lain. Tapi perbedaan mereka akan menjadi kekuatan, atau justru membuat keduanya saling menjauh? #Mohqeel #asmaragenz dituangkan secara tekstual, fiktif dan sedikit romansa.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Enemies in Flames
  • TAKLUK
  • ASMARA AQEELA
  • ANTAGONIS YANG TAK LAGI SAMA
  • AQEESHA
  • Labirin dendam
  • Diam Diam Nikah
  • FATQEEL

Enemies in Flames - dua musuh yang terjebak dalam permainan api perasaan. Dalam dunia yang penuh aturan, mereka adalah pengecualian. Arya Mohan Suryanandika adalah bad boy yang dikenal karena tatapan tajamnya, sikapnya yang dingin, dan keahliannya dalam membuat masalah. Baginya, hidup adalah tentang kesenangan dan kebebasan, tanpa peduli siapa yang ia sakiti dalam prosesnya. Aqeela Aza Calista, gadis yang juga jauh dari kata lembut dan manis. Ia berapi-api, keras kepala, dan lebih suka menyelesaikan masalahnya dengan pukulan daripada kata-kata. Tak ada satu pun orang yang berani macam-macam dengannya. Mereka berdua seperti dua magnet dengan kutub yang sama. Selalu bertolak belakang, selalu bentrok. Tapi siapa sangka, kebencian yang mereka pupuk begitu lama bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit? Sesuatu yang bahkan Aqeela sendiri berusaha keras untuk menolak.

More details
WpActionLinkContent Guidelines